Cerpen Remaja Senanjung Kata Hatimu


Cerpen Remaja kali berjudul Senanjung Kata Hatimu. Cerpen yang mengawali kisah bermodel kiasan akan menambah niat membaca yang tinggi. Cerita pendek remaja ini semoga menghibur Anda :

Cerpen Remaja

Ketika fajar mulai menepi. Saat mentari ingin berbagi kehangatan pada setiap insan di muka bumi, aku telah memijakkan kedua kaki di bawah indahnya naungan cakrawala. Masa putih abu-abu yang merangkul erat membuatku enggan sedetik pun melupakannya.

Cerpen Remaja Cinta

“surat lagi?”. Aku kembali mendapati surat biru di kolong bangkuku.
Surat biru kembali menyapaku paling awal hari ini. Hampir setiap hari aku menerima surat-surat seperti ini di kolong mejaku. Entah dari siapa. Tak ada identitas jelas dari sang penulis. Namun aku selalu menyimpannya sebagai bukti betapa aku menghargainya. Surat-surat itu adalah puisi. Bukan sembarang puisi.
“makasih”. Aku berujar sembari menatap surat itu.

Entah mengapa, alam pikirku selalu hanyut ketika harus membaca setiap kata dari puisi-puisi sendu itu. Seperti terbawa pada suatu keadaan yang membuatku ingin bercurah. Mungkin karena sama halnya dengan apa yang terasa saat ini.
“woy, kok lo ngelamun, Dav?”. Ucap Dani sedikit mengagetkan.
“hmm, iya bro, gue jadi inget Rara”.
“kenapa emang? gara-gara puisi itu lagi?”.
“iya nih, tiap hari dapet puisi kayak gini, bayangin coba?”. Ujarku sambil menunjukkannya.
“masih belum tau siapa yang ngirim?”.
“belum”.
“terus Rara gimana? masih dingin aja?”.
“ya gitu lah, belakangan sikapnya berubah, nggak tau kenapa”.
“kayaknya lo musti cari tau, Dav”.
“hmm”. Jawabku hanya mengangguk.

Sepekan berlalu
Semula aku terdiam di bawah cemara-cemara yang tegar menemaniku melihat sepasang manusia berjalan di bawah langit yang merintih lewat butiran hujan yang membasahi. Tak kulewatkan setiap derap kaki yang mereka langkahkan. Rangga jalan bersama Rara, kekasihku.
“itu Rara?”. Ujarku lirih antara percaya dan tidak.
Ku perhatikan raut muka mereka yang begitu ceria menapaki taman sekolah yang sepi itu. Nampaknya hujan tak meredupkan kebersamaan yang terlihat begitu manis. Aku di sini merasa seperti pribadi yang terbuang. Sebenarnya, sudah sepekan kabar-kabar tentang mereka tersebar di lingkup sekolah. Sikap Rara pun juga berubah sepekan ini. Dan ternyata ini yang aku lihat.
“semoga ini bukan apa-apa Tuhan”. Kataku membatin menyaksikan mereka.

Keesokan harinya
Ketika rasa mulai menuntun, hati tak akan ragu untuk masuk lebih dalam pada sebuah tanda tanya besar. Aku hanyalah manusia yang tak mau ada keganjilan pada apa yang aku jalani, terutama urusan hati. Ku temui Rara pagi ini dengan segala keingin tahuanku.
“Rara, bisa ngobrol sebentar?”. Aku memanggilnya.
“ehh Dava, tumben pagi-pagi ke kelasku, emang ada apa?”. Jawabnya sembari melempar senyum seolah tak terjadi apa-apa.
“ikut sebentar ya, ini penting”. Aku menggapai bahunya berusaha mengajak.
“kok kayaknya serius sih Dav?”.
“iya, di sini aku cuman minta kamu jujur, Ra”.
“maksud kamu?”.
“tentang hubungan kita Ra, aku ngerasa kalo belakangan ini sikap kamu berubah entah karena apa”.
“berubah apanya?”. Jawabnya.
“kamu sering jalan sama Rangga kan tanpa sepengetahuan aku? hah?”.
“hah? jalan sama Rangga?”.
“kemarin aku lihat kamu sama dia, gandengan tangan juga kan? temen-temen juga kasih tau aku kalo di luar sekolah kalian sering keluar berdua. Aku bener-bener nggak nyangka kamu kayak gini Ra”.
“aku sama Rangga…”.
“kamu suka dia?”. tanyaku memotong usahanya menjelaskan.
Rara hening dalam beberapa detik. Dalam diamnya aku berdo’a dalam hati agar hal tersebut tak benar-benar terjadi. Aku berharap Rara bisa mengerti. Cowok culun yang berdiri di hadapannya ini menaruh harapan besar padanya agar hubungan ini bisa bertahan.
“Ra?”. Aku memancingnya.
“maafin aku Dav”. Jawab Rara lirih.
“jadi? kamu?”.
“aku nggak tau kenapa aku bisa sebodoh ini Dav, tapi rasa ini nyaman”.
“apa aku kurang buat kamu?”.
“enggak Dav! kamu baik, kamu bisa ngertiin aku, tapi di sini hati tau di mana ia ngerasa pas, menurut aku Rangga adalah jawabnya”.
“tapi kenapa harus gini Ra?”.
“maafin aku Dav”. Ucap Rara seraya memelukku.
Momen seperti ini tak pernah terselip dalam do’aku. Dia yang aku cintai sepenuh hati ternyata memilih labuhan hati yang lain. Kalau saja bukan karena rasa yang ku miliki, mungkin akan ku tolak pelukan yang beraroma kesedihan ini. Rara menangis dan membasahi seragamku.
“mungkin aku yang bodoh, bagaimana bisa cowok culun kayak aku berharap jalin hubungan yang panjang sama cewek terpopuler di sekolah ini”.
“Daaavaaa”. Rara masih menangis.
“kita selesai Ra”. Ucapku sembari melepaskan pelukannya dan pergi.

Dengan sekejap, seolah langit mengerti suasana hati. Hujan turun dengan lembutnya. Aku tak peduli bagaimana butirannya membuatku lebih basah. Yang ku pikirkan hanyalah saat-saat yang baru saja terjadi. Aku mengakhiri hubungan yang telah terjalin kurang dari setahun ini. Dalam hati mendo’akan semoga pilihannya akan membawa kebaikan untuk dirinya yang pernah singgah meskipun rasa sakit ini tetap menggelayutiku. Aku mengerti bahwa Rangga adalah pria baik dan aku yakin ia mampu menjaga Rara dengan caranya sendiri. Itu adalah kata hatinya, lantas aku tak mampu untuk membendung.

Mahligai cinta memang penuh dengan misteri, salah satunya adalah yang aku alami. Jalan masih terlampau jauh untuk bersedih yang berkepanjangan. Olehnya, aku tak mau berhenti. Aku adalah Dava yang pantas mendapat kebahagiaan. Mungkin untuk saat ini ‘Move On’ adalah ritual yang tepat.

Hari berikutnya
Senyumku tak kunjung kembali. Jagad hati masih saja mendung. Bahkan mentari yang ramah menyapaku tak terhiraukan. Bukan mauku. Bukan inginku. Hanya saja aku merasa hari-hariku tak akan seindah pada saat masih bersama Rara.
“Dava!”. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.
“Dinda? ada apa?”.
“harusnya aku dong yang tanya, kamu kenapa sih? kok murung gitu?”. Suara Dinda yang kalem itu menyambut aku.
“nggak papa kok, cuman lagi nggak enak badan aja”.
“Rara ya?”.
Dengan sekejap aku terperangah mendengar kata itu. Bagaimana bisa Dinda tau tentang apa yang aku pikirkan.
“kok kamu tau sih?”.
“iya aku tau banget, Dav”.
“Rara cerita ke kamu?”.
“enggak kok, aku tau sendiri, kalian putus kan?”.
“iya, tapi gimana bisa kamu…”.
“kemarin aku lagi baca buku di taman samping kelas, aku nggak sengaja denger kalian ngobrol di samping kelas Rara, aku di belakangmu Dav”. Ia memotong ucapanku.
“oh jadi, kamu udah denger semua ya”.
“maaf ya Dav, aku nggak sengaja kok”.
“nggak papa kok, lagian kan udah lewat Din, santai aja”.
Pada saat itu Dinda menatapku ringan. Matanya seperti membiusku. Aku merasa seolah pernah berada pada saat-saat seperti ini namun aku lupa dimana. Ada apa sebenarnya. Aku dag dig dug.
“Rara udah milih apa maunya, kamu nggak bisa gini terus, kamu juga musti milih siapa yang emang pantes buat kamu, Dav”. Tiba-tiba ia meletakkan jemarinya di pundakku.
“ee.. ii.. iya Din”. Jawabku sedikit grogi.
“bagus”. Kemudian ia melepaskan senyuman itu padaku. Tentram sekali hati ini.
“emang kenapa sih? kok kamu segitu perhatiannya sama urusan ini?”.
“kenapa ya? mungkin emang harus”.
“maksudnya?”.
“coba deh mulai sekarang kamu belajar jadi orang yang peka, setelah itu kamu bakal tau apa maksud dari kedatangan aku di sini”. Perjelas Dinda dan ia segera pergi dari tatapanku.
“peka?”. Aku kebingungan.
Dinda pergi meninggalkan kalimatnya. Sekali lagi aku bertemu dengan bunga di sekolah ini. Dinda cantik, ramah, dan tergolong pribadi yang menyenangkan. Apa ini pertanda bahwa cinta telah datang? atau Tuhan menjawab kesendirianku? yang jelas aku nyaman ketika harus berbicara bersamanya. Dinda.

“hah? surat biru ini?”. Aku kembali mendapatinya.
Surat itu berada di tempat Dinda ketika ia duduk bersamaku tadi.
“jadi? Dinda? surat ini? ee?”. Aku mengambilnya seraya memperhatikan Dinda yang baru saja melangkah pergi.

– Dengar Hatimu –
Sang putra
Putihmu slalu terdamba
Kasihmu adalah impianku
Bergegaslah untuk kembali melangkah
Ajarkan aku cinta
Berikan sentuhan anti sayu
Ku percaya aksara kan mengilhamimu
Pula waktu yang merangkulmu erat
Di sini
Tepat di naungan terindah
Kan ku ukir romansa kecil sebatas rasa
Untuk menyambut keindahan yang terhadirkan
Sedikit saja
Tanpa ego juga tak bergejolak
Coba dengarkan lirih
Kata hati yang memanggil itu
– D –

Ternyata. Surat-surat yang selama ini aku terima adalah Dinda yang menuliskan. Perlahan aku mulai mengerti bahwa sesungguhnya ia menaruh harapan terhadapku. Mungkin ia tak terlalu berani berkata sehingga lewat surat-suratnya lah ia berusaha mengungkapkan.
“jadi kamu ya, Din”.

Hari berlanjut
Hari berlanjut. Kini aku semakin sering menghabiskan waktuku bersama Dinda. Aku berpura-pura tak mengerti apa-apa tentang surat yang selalu Dinda berikan secara diam-diam. Bersamanya aku tak lagi menikmati kesedihan yang lalu. Ia mengajariku tentang arti hadirnya seseorang yang mampu membawa kita pada indahnya hubungan yang lebih pasti.
Sore ini aku tengah berada di sebuah tempat hiburan di sudut kota. Sekedar berjalan-jalan sambil memandangi suasana kota di sore senja. Aku rasa ini adalah momen yang tepat.
“Dinda”.
“hmm iya kenapa Dav?”.
“ini semua dari kamu kan?”. Aku mengeluarkan semua surat pemberian Dinda dari dalam tas yang ku bawa.
“ee..ee..e?”.
“iya kan?”. Aku memancingnya.
Dinda masih diam sambil memandangi semua yang aku tunjukkan.
“Dinda?”.
“maafin aku, Dav”. Tiba-tiba Dinda menjadi gugup.
“nggak perlu minta maaf kok, justru aku yang makasih banget soalnya kamu udah sering ngasih aku kata-kata yang cemerlang itu, semua puisimu keren Din, aku suka”. Ujarku sambil tersenyum.
“beneran, Dav?”.
“beneran!”.
“makasih deh Dav”. Ia melepas senyum itu lagi.
“iyap, sama-sama”. Aku membalasnya.
Tiba-tiba kami diam. Entah karena apa aku dan ia seperti tak punya kosakata lagi untuk melanjutkan kebersamaan ini. Kaki bergetar hebat. Mulut enggan untuk sekedar basa-basi.
“ee..ee.. terus Dav?”. Dinda mulai bertanya.
“apanya Din?”.
“kamu masih belum sadar juga yaa”.
“apa’an sih?”.
Dinda menatap mataku penuh kesungguhan. Wajahnya yang manis itu kini tak ragu menghadapiku. Ia berdiri seperti ingin mengajarkanku tentang sebuah pengakuan.
“puisi-puisi itu, murni dari apa yang selama ini aku rasain, nggak ada yang dibuat-buat Dav, 3 tahun cuman bisa mandangin kamu dari jauh tanpa berani ngomong, aku mutusin buat ngirim surat-surat itu ke kamu belakangan ini dan akhirnya kamu tau”.
“kamu kenapa Din?”. Aku menyahutnya.
“aku sempet down waktu tau kalau ternyata Rara itu pacar kamu, tapi akhirnya kalian udahan dan aku pikir nggak ada salahnya kalau aku bilang semuanya sekarang”.
“Din…”.
“aku suka kamu Dav”.
“aa?”. Aku bisu.
Dinda menyuarakan kalimat itu. Sekali lagi aku berada di keadaan yang membuatku hening. Hari mulai menuju gelap dan semakin mendramatisir suasana. Ini benar-benar menyiksa karena untuk saat ini, rasa ini masih terbayangi oleh sosok Rara, namun di satu sisi aku juga tak mau mengecewakan Dinda yang sejauh ini ada untuk aku.
“tapi aku juga masih sayang sama kamu, Dav”. Tiba-tiba suara itu muncul dari belakang Dinda.
Rara hadir di tengah pembicaraan hati. Semakin kacau.
“hah? Rara?”. Aku semakin bingung.
“maafin aku Dav”. Rara berlari lalu mendaratkan pelukannya padaku seraya menangis tepat di hadapan Dinda yang baru saja menyatakan cintanya padaku.
“Dav, aku pergi, makasih”. Dinda pergi dengan tangisan sedih yang berusaha ditutupinya.
“ee.. tapi? Din?”. Aku benar-benar kebingungan.

Gelap telah datang. Cahaya-cahaya lampu taman kota riang menyorot Rara yang masih memeluk aku dengan tangisnya. Bintang sedikit meredup berusaha mengimbangi suasana. Aku benci harus berada pada posisi seperti ini. Siapapun yang bisa, tolong bantu aku.
“udah, kamu ngapain di sini?”.
“aku mau ngomong sama kamu”.
“bukannya semuanya udah jelas”.
“dengerin aku, Dav!”.
“Rangga pasti bakalan kecewa kalau tau kamu lagi berduaan sama aku, mendingan kamu jangan di sini”
“maafin aku Dav, selama ini ternyata aku salah, Rangga udah punya cewek, dia cuman anggep aku temen”.
“hah? nggak mungkin”.
“aku serius, Dav!”.
“terus mau kamu apa? hah?”.
“aku sadar kalau aku cuman ngejar sesuatu yang nggak pasti, aku rela kalau seandainya kamu mau marah sama aku tapi please maafin aku”.
“kalau dasarnya cinta, pasti dimaafin kok”.
“jadi? kamu maafin aku?”.
“iya”.
“makasih banget ya Dav”.
“terus mau kamu apa?”.
“aku mau kita balik kayak dulu lagi”.
Hati memang sakit, namun akan selalu memaafkan jika segalanya dinaungi dengan cinta. Tapi apakah tak terlalu cepat jika seandainya harus kembali memutar kisah? Egois.
“gampang banget ya ngomong gitu”.
“please Dav?”.
“kamu itu egois ya Ra, di saat kamu suka seseorang kamu ninggalin aku, tapi di saat kamu nggak dapet, dengan gampangnya kamu minta balik, dimana nuranimu?”.
“cuman kamu tempat aku buat kembali, Dav”. Ia mendekap tanganku.
“apa kamu nggak mikir gimana sakitnya aku waktu kamu mutusin buat milih Rangga? apa kamu nggak sedikit pun peduli gimana perjuangan aku buat dapetin kamu? luka emang sembuh Ra, tapi bekasnya bisa seumur hidup!”.
“please Dav, aku mohon kamu bisa balik lagi sama aku”. Ujar Rara semakin menjadi.
“tapi semua butuh proses, maaf aku nggak bisa!”. Aku melepasnya dan lekas pergi dengan kekecewaan.
“Davaaa!”. Ia meneriakiku.
Langkahku semakin jauh. Tak ada ragu untuk sementara meninggalkannya sendiri agar ia belajar bagaimana menggunakan hati dengan bijak walau air mata kian menjadi.

Hari berlalu. Aku berpikir untuk segera menyelesaikan kerumitan ini. Hari ini, sepulang sekolah di dekat deretan pohon cemara, aku menghampiri Dinda. Tak ada yang lebih indah dari sebuah kepastian. Hari ini adalah sebuah tantangan.
“Dinda”. Aku menyapanya.
“ee.. Dav? Tunggu ya, aku mau …”. Ia berusaha pergi namun aku mencegahnya.
“dengerin aku sebentar, please”.
“kenapa, Dav?”.
“tepat hari ini dan di sini, aku cuman mau semuanya jelas”.
“apa’an sih Dav?”.
“tentang pernyataanmu kemarin, aku harus jawab, aku ngehargai rasamu itu, aku bener-bener nggak nyangka kalau cewek se-manis kamu ternyata punya cinta buat cowok culun kayak aku, ini bener-bener nggak nyangka”.
“Dav?”.
“tapi maaf, aku nggak mau jadi orang yang memanfaatkan keadaan, kemarin Rara bilang kalau dia mau kita balikan lagi kayak dulu dan aku nolak itu, dan di sini pula aku mau negasin kalau aku emang nggak bisa juga nerima rasamu itu, Din”.
“hah, tapi Dav? kenapa?”.
“lebih baik hati ini tertutup, aku pikir untuk nggak milih di antara kalian berdua adalah pilihan yang tepat, biar nggak ada yang sakit di antara kita semua. Tapi yang jelas, kamu sama Rara adalah dua cerita yang nggak akan aku lupa khususnya di masa putih abu-abu ini”.
“aku hargai itu Dav, tapi aku berharap suatu saat hati itu bakal terbuka lagi”.
“semoga Din”.
“makasih Dav”. Dinda mulai berkaca-kaca.
“makasih juga udah mau meluangkan hatinya buat aku”.
“Dav…”. Kini Dinda memeluk tubuh ini. Sungguh tak kuasa aku menahan kristal di mataku. Terbasahi sudah seragam yang tak lama lagi akan segera kami tinggalkan ini.
“cuman sekarang waktu yang pas, setelah ujian nasional selesai, aku bakalan pergi belajar ke luar negeri, Din”.
“apa? Dav?”.
“iya, di luar negeri”.
“jangan lupain aku, Dav”.
“nggak akan”.

Itu adalah pelukan terakhir yang aku terima dari salah seorang wanita yang lalu lalang di mahligai cinta semasa SMA. Rara dan Dinda, dua pribadi yang banyak memberiku pelajaran dengan kerikil tajam dalam fase remaja meskipun pada akhirnya jalan cerita itu tak berjalan seindah harapku. Ku dengarkan kata hatiku untuk meninggalkan keduanya agar tak ada luka di saat nanti kita berjalan terpisah. Ku putuskan untuk pergi meninggalkan keduanya.

Terima kasih putih kasihmu. Segelintir senyuman akan menegaskan betapa agungnya kekuatan cinta mampu menjagamu di saat rindu itu mulai datang menyapa. Ku titipkan segudang asaku pada seragam putih abu-abu sebagai bukti bahwa tak ada cerita seindah di kala aku menimba ilmu di masa-masa sekolah seperti ini. Bersamamu, cinta.
‘Senandung kata hati telah menuntun, lantas masa ini akan terjaga
Bersama cinta yang menggelora’

– TAMAT –

Cerpen Karangan: Avando Nesto
Facebook: ELchevo Avando

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s