Cerpen Remaja Khayalanku


Cerpen Remaja Kali ini Berjudul Khayalanku. Cerpen ini mengisahkan tentang hanya sebuah khayalan belaka untuk dapat mendapatkan mu.

Cerpen Remaja Cinta

Siang itu, sinar matahari terlalu sengit untuk dilihat secara langsung hingga menembus kaca mobil. Aku (Sesil), Kirin, Didi, dan Julian yang sedang menyetir mobil, sedang menuju Dunia Fantasi yang berada di Jakarta Utara itu. Setibanya disana, Julian langsung memarkirkan mobilnya ke lapangan luas yang dipenuhi mobil-mobil pengunjung dengan beberapa pohon berdiri kukuh. Setelah dipastikan mobil kami terparkir dengan benar, kami turun dari mobil bersamaan. Kacamata hitam yang menggantung di bajuku sudah siap untuk melindungi mataku dari terik matahari yang sangat kejam. Aku ikat rambutku ke belakang, dan ku gulung rapih dengan kunciran pita berwarna hitam yang sepadan dengan celana jeans panjang yang mengenai atas mata kakiku. Didi dan Julian mempersilahkan Aku dengan Kirin untuk berjalan duluan. Aku melangkah dengan badan tegap menatap ke depan. Rambut Kirin yang panjang dibiarkan terurai hingga berterbangan tertiup angin, sepertinya Julian sedikit terganggu dengan rambut Kirin yang mengenai matanya, hingga Julian mundur beberapa langkah dari nya.

Cerpen Remaja

Kirin terlihat sangat cantik dengan style nya yang sangat santai. Baju tipis berwarna biru tua itu membaluti tangtop hitamnya dengan celana pendek berbahan jeans nya yang berjarak satu jengkal dari atas lututnya. Kacamata bulat berwarna hitam dipakainya untuk melindungi matanya dari terik matahari yang sangat menyilaukan pandangan. Didi, si pria Bali yang sangat santai dengan kaos abu-abunya dengan celana pendek di atas dengkul dan hiasan sepatu cokelat muda dengan talinya yang berwarna cokelat tua. Julian, si pria berkumis tipis yang wajahnya sedikit ke arab-an bergaya santai seperti Didi, tapi kali ini, Julian menggunakan topi yang dipakainya ke belakang. Dan aku, masih santai dengan rambut yang digulung ke belakang, dengan kacamata hitam dan kaus ungu serta sepatu fantovel berwarna hitam.

Cerpen Remaja Cinta Romantis

“Kita mau coba yang mana dulu nih?” tanyaku pada yang lainnya. “Duh sil, bianglala dulu aja yuuk.. Yang bikin kita terbang nanti aja. Kalo perlu belakangan aja pas kita mau pulang..” sambung Kirin dengan nada sedikit cemas. “Ribet kan ngajak dia. Kalo kamu ngomong gitu, mending kamu duduk manis deh di bawah pohon itu. Jangan berisik..” ucapan julian membuat Kirin tertunduk malu. “Apaan si juul” jawabnya. “Tapi emang bener juga si kata Julian. hahaha…” Didi langsung menyambung kata-kata Julian dengan wajah tanpa dosa. Kirin yang sedikit jengkel, langsung mencubit perut Didi yang terlihat tidak berisi. “Aww.. sakit kali rin” “Bodo sih yee..” sambil menjulurkan lidahnya pada Didi seperti anak kecil.

Terpaksa, kami menuruti kata-kata Kirin dengan naik bianglala tanpa ekspresi alias bosan. Turun dari bianglala, kami bertiga langsung menyerbu Kora-kora yang berada di sampingnya. Antrian Kora-kora memang panjang sehingga membuat kami harus sabar menunggu. Disaat menunggu, Kirin berusaha membatalkan niat kami bertiga. Tapi tetap saja Kirin harus ikut menaikinya. Di atas sana, awalnya Kirin terlihat santai sampai akhirnya ia berteriak dengan sangat kencang hingga tidak bersuara dan memeluk Didi dengan sangat erat. “Di.. Di.. Didiii.. Didi tolong Didiii…” matanya terpejam dan semakin erat memeluk Didi.

Selesai dari wahana itu, Kirin langsung lemas dan bibirnya pucat. Kami yang khawatir akan keadaannya, langsung beristirahat untuk memulihkan keadaan Kirin seperti semula. Aku dan Julian memesan makanan untuk kami berempat yang kebetulan waktu untuk makan siang telah tiba. Terlihat, Kirin masih sangat lemas dan melamun. Didi yang duduk di depannya, berjalan menghampirinya dan duduk di sebelah Kirin. Mengusap kepala Kirin dengan tujuan untuk menenagkannya. Didi sangat lembut jika sudah bersama Kirin.

Makanan yang telah siap, aku antarkan untuk Kirin. Kirin memakan makanannya dengan lahap, dan meminum es teh manis sampai bibir merah yang tadinya berwarna putih itu kembali. Sekitar 45 menit kami berada disana dan berlanjut ke wahana lainnya.

Tapi perjalanan kami tertunda oleh Didi dan Julian yang akan melaksanakan solat jumat. Sekitar 30 menit kami menunggu, mereka datang kembali dan mengajak Kirin ke arena BomBomKar kesukaannya. Dengan wajah ceria, Kirin langsung menyetujuinya dan berjalan di depan kami dengan penuh semangat. Tentu kami harus mengantri sampai akhirnya kami dipersilahkan untuk memilih mobil yang akan kami kendarai. Di arena itu, kami selalu bertabrakkan dengan keras layaknya mengendarai mobil sungguhan. Didi sangat bersyukur saat semangat Kirin kembali seperti semula.

Pergi dari arena BomBomKar, kami menuju halilintar yang putarannya lebih sederhana. Dalam wahana itu, aku berada di belakang Kirin, dan Didi berada di belakangku, sedangkan Julian berada di depan Kirin. Dalam wahana itu, aku tidak bisa memendam teriakkanku sampai akhirnya teriakkanku dan Kirin meledak-ledak, sedangkan Didi dan Julian tidak bisa menahan tawanya lebih lama.

Turun dari arena itu, kami langsung pergi mencoba wahana lainnya seperti rumah ajaib, rumah jahil, dan Happy Feet. Tapi, setelah kami mengantri cukup lama, terbesit pada benakku untuk mundur dari antrian “Capek kali ngantri gini doang, 50 orang. Pertunjukkannya 10 menit, ngantrinya? Ayo deh mending kita nonton show di deket hysteria tadi aja. Mulainya jam tiga, sebentar lagi..” ucapku mengalihkan pembicaraan. “Ya udah deh yuuk nonton show itu aja, daripada ini ngantri nya masih panjang tuh liat aja deh..” sambung Kirin. Akhirnya, kami melompat dari batas antrian dan menuju ke show dekat hysteria dengan berlarian. Sesampainya disana, show sudah dimulai dan kami mencari tempat duduk yang nyaman sampai show selesai.

Pandanganku teralihkan dari show pada pria tinggi berkulit sawo matang itu. Yang duduk di barisan nomor tiga dari bawah. Aku yang berada jauh di atasnya hanya bisa memandanginya dari jauh. Selesai menonton show, kami bergegas menuju wahana arum jeram. Tapi, saat di tengah-tengah perjalanan, aku mendadak ingin ke toilet. “Didi, Julian, aku mau ke kamar mandi nih… Tolong dong.. yaa” ucapku dengan wajah panik. “Ya udah di deket arum jeram juga ada toilet kok sil” sambung Julian memberi penjelasan. “Enggak ah Jul, aku mau ke toilet deket hysteria itu aja. Tolong dong ayook” gumamku memohon. “Ayok sil deket arum jeram pasti ada toilet kok..” sambung Didi meyakinkanku. “Ya udah ya udah ayok balik ke toilet tadi.” sambung Julian yang memutuskan. Karena sudah tidak bisa tertahan lagi, aku berlari menuju toilet. Dalam lariku, aku bertemu lagi dengan pria tinggi berkulit sawo matang yang menarik perhatianku saat show berlangsung. Tampaknya dia melihatku, tapi aku fokus untuk menuju toilet dengan cepat.

“Lama banget sih tadi ke toiletnya..” ucap Didi. “Maaf deh Di, tadi kan antri. Namanya juga cewek. ya kaan..” jawabku sambil mengedipkan mata pada Didi. Saat mencoba wahana arum jeram, mendadak dalam keadaan yang bergoyang-goyang, Kirin tidak bisa memakai sabuk pengamannya. “Didiii.. Didi ini gimana sabuknya kok gak bisa sii?” ucap Kirin panik. Namun saat Didi ingin membantunya, tempat duduk yang sedang kita naiki terus bergoyang, dan itu terjadi secara terus menerus. “Ah gimana si rin, masa pake sabuk aja gak bsia” sambung Didi. “Ih tapi susah Di.. bantuin dong.” nada panik Kirin mengacaukan suasana. Semuanya panik saat Kirin tidak memakai sabuknya. Kepanikkan terus melanda kami berempat yang sudah basah kuyup lantaran air mengguyur. Setelah menaiki arum jeram, kami langsung bergegas menuju ruang ganti.

“Makan bakso aja yuuk..” ucap Julian memberi ide. “Boleh, ayok ayok..” sambung yang lainnya. “Naik hysteria dulu yuk, aku penasaran dari tadi cuma bisa ngeliat orang-orang naik wahana itu.” sambungku sedikit memohon. “Udahlah, ayok makan bakso terus kita pulang. Lagipula ini juga udah sore. Ntar mama kamu nyariin sil,” lalu datang menghampiriku dan merangkul pundakku. Aku menurutinya, dan tanpa ku sangka aku bertemu lagi dengan pria tinggi berkulit sawo matang itu. Sungguh pertemuan yang tidak bisa ku duga. Saat ku perhatikan wajahnya dari kejauhan, dia mengingatkanku pada masa lalu. Membayangkan wajahnya sudah mampu menghilangkan rasa lelah yang aku rasakan sekarang. Khayalanku tentangnya sukses membuatku merasa bahagia. Namun saat makanan ku baru saja datang, rombongan pria itu berlalu dari hadapanku. Setelah selesai menikmati bakso, kami langsung pergi meninggalkan Dunia Fantasi untuk kembali ke rumah.

Cerpen Karangan: Kinaryochi W
Blog: kinaryochiwjy.blogspot.com
Instagram: Kinarych
Twitter: Kinarryochi
ask.fm/kinarryochi/
soundcloud.com/kinaryochi-wijaya/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s