Cerpen Remaja Serakha


Cerpen Remaja kali ini Berjudul Serakah. Cerita Remaja ini tentna gserakah nya orang, semoga dapat terhibur.

Cerpen Remaja Cinta Cerpen Remaja

Ini bukan untuk yang pertama kalinya, tapi tetap saja aku tidak menyadarinya, sadar… jika ditanya mengenai hal itu, aku akan menjawab dengan cepat dan muram ‘ya, tapi telat’, mungkin aku harus sering meladeni ayahku yang bersengot tebal serta berkutu, karena sering ia garuk sehabis tangan tambun kehitaman itu ngupil serta memberantas dengan bringas dan dengan ekspresi mirip cecak yang asmanya kumat ke kudis serta koreng yang terpatri indah di atas kulitnya dengan hikmatnya.

Cerpen Remaja Cerpen Remaja Romantis Cerpen Remaja Cinta Romantis

Memenangkan duel saling tawer antar kedua kubu sedarah sekandung, sekantut dan sesama lebat bulu keteknya, dan hasilnya, aku akan lebih peka pada sifat serta perubahan yang terjadi pada orang-orang di sekitarku, yeah.. mungkin, tidak nyambung memang.

Kejadian itu terulang lagi, padahal orkestra rintik hujan yang jatuh dari atas genteng baru dimulai, angin dingin khas nuansa sehabis hujan baru menyapa dan bermain-main dengan rambutku, tapi aura yang ia keluarkan saat melintas di hadapanku begitu gelap, saat mulut ini menyerukan namanya, respon yang diterima jauh dari pemikiran di otakku yang cukup terbatas ini.

Ekspresi yang begitu dingin dan tatapan mata yang biarpun sedikit ada hiasan tahi mata disana, tetap saja membuatku tersudut. Dia yang hyperaktif, berkelakuan mirip kera setengah tambun bergigi emas, bersikap seolah dia terlahir dengan sendok perak di mulutnya, perkasa dan suka kentut di muka Alya Zahra, dialah Winda, kawanku yang tengah memusuhiku.

“Kembalikan uangku nanti.” Hanya kalimat dingin itu yang dikeluarkannya jika berhadapan denganku. Baru siang ini aku menyadarinya, paginya ku pikir ia tengah terkena awan mendung saja, jadi aku bersikap seperti biasa saja padanya, ternyata wajah muramnya itu disebabkan oleh hal ‘itu’.

Waktu pulang masih setengah jam lagi, tapi punggung kurus itu tetap tak membiarkanku untuk menatap wajah yang seraga dengannya.

Hampir 3 hari Winda bersikap dingin pada awalnya yang tentu saja baru kusadari, begitu dingin sampai-sampai ia sudah sangat jarang melakukan ritual goib (gaib) peningkat kesehatan tubuh serta memicu adanya serangan jantung yang katanya wajib ditarikan dan di tonton oleh sohib-sohibnya, terutama kami.

“Ayo! Senam keluarga!!”
Ciptaan yang jika dilihat akan berbuih dan sawan sesaat, karena berikutnya malaikat maut tahu-tahu sudah berada di sebelah kita sambil ‘say hallo’ (berkata halo) pula, alias sudah mati di tempat, terlalu kagum mungkin, kalau kami, tenang… kami sudah kebal. Memang asyik jika melihatnya sambil makan pentol, tapi jika disuruh untuk menarikannya, mungkin nanti, saat Alya menghuntas (menarik) habis urat malu kami, itu pun masih mengalami perdebatan batin antara ‘ingin’ dan’tidak’.

Di lihat dari sudut manapun, sikap kami sangat kekanakan, sebenarnya… yang mengawali masalah ini semua adalah aku, Delia, dan Fivi, kami akui itu, tapi belum kami selesaikan masalah itu. Aku terlalu menganggap masalah ‘itu’ sepele, sehingga aksi Winda yang cukup ekstrem namun memang tidak lebih extrem jika dibandingkan dengan aksi menepakan (menaruh/meletakkan) coklat di giginya dan Alya, dan aksinya itu bertahan selama seminggu.

Jengah juga jika terus mengarungi atmosfer suram seperti ini dengan waktu yang lama. Penjelasan ibu guru di depan terlalu membosankan, mataku lebih memilih memandang punggung Winda yang duduk di hadapanku yang terasa begitu menarik bagiku, kursiku terletak di bagian belakang, jadi ibu guru tak kan bisa melihat perbuatanku ini.
“Sampai kapan kau berbuat begini, hm?”
Otakku tiba-tiba memutarkan adegan lama, adegan dimana semua permasalahan ini dimulai, kalian ingin tahu, baik! Kita putar kembali kejadian di masa lalu, tepatnya ke 1 minggu yang lalu.

*Mengulang* (Flashback)

“Bagaimana kalau minggu ini kita makan-makan?” Winda berujar dengan riang, kawan-kawannya termasuk aku yang notabene rakus semua langsung mengangguk mantap.

Anak-anak kelas 7A sibuk dengan urusannya masing-masing, pelajaran memang sudah dimulai, namun guru yang mengajar belum juga terlihat batang hidungnya, membuat beberapa murid mengambil kesempatan ini untuk ribut dan berbuat sesuka hati.

“Dimana?” Fivi bertanya, Winda tampak berpikir,
“Di kebun milik salah satu keluargamu saja bagaimana?”
Semua mengangguk setuju, disana memang memiliki suasana yang sejuk, ditambah ada pondok kecil serta pohon-pohon pisang yang menambah acara piknikan kami nanti.
“Peralatan serta makanan akan mulai disiapkan, kita juga akan mengumpulkan uang, ya masing-masing mengumpulkan kira-kira 7 atau 8 ribu saja sudah cukup untuk membeli udang dan cemilan lain jika uang masih bersisa.” Ide yang sangat bagus, Win.
Akh, sungguh tidak sabar, tapi hari minggu masih 2 hari lagi, yah… ditunggu saja, toh nantinya perutku akan terpuaskan juga, hehe.

Dari hari ke hari, kami selalu membicarakan persiapkan serta pelaksanaan acara piknik kami dengan semangat, di jam berapa kami berangkat kesana, bagaimana perjalanan kami yang akan berangkat bersama-sama kesana, apakah makanan yang akan dimakan nanti enak dan siapakah yang paling banyak menelannya, sipakah nanti perwakilan yang akan membeli udang dan makanan lainnya, siapa yang akan meracik dan dibuat apa ya enaknya.
“Wwuaaahh… pasti menyenangkan!”

Menjelang hari sabtu, ternyata tugas menumpuk bahkan tingginya seolah mengalahkan tinggi geudng-gedung pencakar langit, terus menghantui di setiap malamnya, meminta kami agar mau membagi waktu untuk mengerjakannya, tentu saja, tugas itu salah satunya ya….

“Rabu depan, kalian akan praktek membuat kue..”
Semua kelompok sepakat melakukan latihan alias percobaan membuat kue agar tidak gagal nantinya tepat di hari minggu, kami panik, pastinya.
“Kupikir nantinya akan lancar-lancar saja, ternyata… semua tidak selalu berjalan sesuai harapan kita ya?” Keluhku.

Yah, mau tak mau kami ikuti saja dulu alur yang ada. Kelompokku berbeda dengan Winda, Alya dan Fivi berada dalam satu kelompok, Delia juga berbeda, sulit kalau begini untuk berkumpul, berangkat ke kebun bersama-sama.
“Jangan khawatir, kelompok kita masing-masing melakukan percobaan pada pagi hari minggu, jadi siangnya kita masih bisa berkumpul dan bersiap-siap…” Aku sedikit lega mendengar penuturan Alya barusan, yah…tak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja, mungkin.

Minggunya, kami mulai melakukan tugas kelompok kami. Kelompokku selesai dengan tugasnya pukul 13.00 siang, aku pun segera pulang, untungnya setelah sampai di rumah, Fivi dan Delia sudah duduk anteng menungguku, senyumku langsung mengembang, biarpun tadinya lelah dan sempat bermandikan keringat, semangatku langsung naik ke permukaan.

Udang sudah dibeli pada pagi hari olehku dan Fivi, jadi tinggal nasinya saja. Kami pun menanak nasi sebelum pergi.
“Kita olah udangnya dengan rasa pedas dan gurih, lalu taruh ke dalam kotak nasi yang indah dan dibeli karena ada diskon, keren..”
“Eh, Winda dan Alya mana?” Fivi bertanya, yang langsung membuat hatiku dihantam dan dihujani beribu pertanyaan.
“Alya sekelompok denganmu kan?”
“Tidak!”
Aku menepuk jidatku, kalau mereka tidak ada, bagaimana kami bisa melakuakan piknik, gawat! Jam sudah menunjukkan pukul 15.00 siang, kalau tidak dimakan sekarang, udangnya tidak akan sedap, aduh~. Ibuku tiba-tiba datang menghampiri kami yang tengah dilanda kegundahan.
“Tadi Winda ada menunggumu disini, tapi karena kau tak datang-datang, ia pulang ke rumahnya.”
Aku terdiam, aku yakin kami bertiga terdiam karena sibuk melawan hawa nafsu makan masing-masing, namun sepertinya kali ini kami harus mengaku kalah.
Seolah tak terjadi apapun atau tak meninggalkan siapapun, kami berteriak.
“AYO BERANGKAT!!!”

Aku menggunakan sepeda merah milik ibuku, Fivi dan Delia menggunakan sepeda mereka sendiri, melihat tampang mereka sendiri, melihat tampang kami yang seperti anjing yang tengah puasa namun tak kuat, dan memilih ingin membatalkannya secepat mungkin, membuat kami langsung memacu sepeda kami, tak peduli jika nantinya akan ada yang terbang ke selokan, menabrak kai-kai yang membuat manula itu terpelanting dengan gaya balet ke belakang, melindas badan Santoso yang lagi asyik jemuran di pantai sama om-om bule yang keriputan, satu penggambaran kami selap (tak memikirkan apapun, tancap saja) pergi kesana.

Matahari hanya bersinar bak kehabisan baterai, kami duduk di atas tikar yang dipayungi oleh beberapa pohon pisang serta pondok yang cukup rindang, dengan pandangan lapar, kami tata makanan yang kami bawa ke atas tikar.
“Mari makan!” teriakku, namun mungkin karena terlalu bersemangat dan selapnya, Delia dan Fivi memilih pipis dulu, ku suruh saja mereka pipis di antara semak-semak, kan ada untungnya juga, bisa menggantikan fungsi rondap, melayukan tanaman.
Diam-diam saat mereka sibuk di kejauhan, aku bergumam.
“Mudah-mudahan tak ada ular yang berkepala Emme disana.” Dan aku pun langsung melahap makanannya. Delia yang selesai dahulu langsung memarahiku.
“Hey.. hey, kenapa dimakan sendiri!? Ajak-ajak kenapa.” Dan kami pun mulai melahap es bersama, sampai tersisa 1, selanjutnya kami hanya bisa nyengir di hadapan Fivi.

Kami bertiga mulai melahap udang sambil memutar lagu dari HP Fivi, melupakan seseorang disana yang juga menyumbangkan uangnya untuk membeli udang ini. Merasa minumannya kurang, mereka menyuruhku untuk membelinya, aku tidak bisa protes.. masalahnya perutku keras kepala. Langsung kunaiki sepeda ibuku yang saat dinaiki seolah berbunyi ingin hancur itu dengan cepat, takut makanan yang ada akan habis di tangan 2 ABG buas.

Tak peduli sepeda ini hampir menabrkan seorang ibu dan kedua anaknya, tak peduli tatapan orang yang melihatku seolah aku ini babi yang bergaya-gaya menjadi banteng yang hendak menyeruduk orang.
“Beli bu!” ku beli dengan cepat dan balik dengan kilat.
Untungnya udangnya masih ada. Kami kembali akan sambil tertawa lepas karena keselek serta kentut kelepasan

Hari senin pun tiba, kami menyambutnya dengan menceritakan kembali kejadian yang terjadi saat kami piknik di dalam kelas. Alya tidak marah sama sekali, karen ia juga menikmati kisah kami, tetapi ketika Winda menghampiri kami, ia langsung berwajah dingin.
“Kalian kemana saja!?”
“Ke.. kebun..” jawabku gugup, Winda mendengus.
“Aku menunggu di rumahmu Selin, namun kau tidak datang-datang juga, jadi aku memilih pulang, menunggu klarifikasi tentang acara piknikan kita, tapi apa yang kalian lakukan! Meninggalkan aku dan Aly begitu saja!!”
“I.. itu..” Winda menatap kami tajam.
“Seharusnya kalian beritahu kami kalau kalian ingin kesana! Jika ini akhirnya, menyesal aku melakukannya!!” Dan ia pergi, meninggalkan aura kecanggungan yang tak terasa olehku.

*Pengulangan berakhir* (Flashback end)

Dan dari hari itu, Winda tak pernah lagi berbicara pada kami seputar pembicaraan konyol yang dulu sering ia lontarkan, dia hanya mendatangi kami untuk mengingatkan kami bahwa ia ingin uangnya yang kami gunakan untuk membeli udang kembali.

Semua temanku merasa tak enak dengan Winda, tetapi aku mengatakan bahwa nantinya juga Winda akan kembali lagi, namun sampai hari ini, ia tetap bersikap dingin pada kami, aku salah, aku terlalu menganggap remeh masalah, yeah… biarpun ini wajar karena ini kali pertama Winda marah pada kami, tapi tetap saja, huh… sepertinya aku harus minta maaf.

Tiba-tiba Delia berbicara padaku.
“Sepertinya Winda marah padaku.” Aku tertegun.
“Lihatlah sikap dinginnya akhir-akhir ini, semua tertuju padaku, aku benar-benar merasa bersalah” Semenjak masalah ini terjadi, Delia adalah orang yang paling merasa tertekan, aku tersenyum miris, aku bahkan bersikap biasa saja dan sama sekali tak merasakan perubahan ganjil pada Winda, payah.
Kukecilakan suaraku agar tak terdengar oleh ibu guru.
“Sebaiknya kita minta maaf padanya besok, bagaimana?” Delia mengangguk mantap, dan setelahnya bel pulang segera berdentang. Win, kami benar-benar menyesal, maafkan kami, kami tahu kami yang salah, tapi kami benar-benar tidak bermaksud untuk melakukannya, kami janji insya Allah ini tidak akan terjadi lagi, jadi tolong jangan benci kami, kami sayang padamu Win, kami akan belajar dari sini, dan ke depannya akan memperbaiki kesalahan yang ada, nasi memang sudah menjadi bubur, tetapi bubur itu masih bisa ditambahi dengan ayam, kecap dan kerupuk kan.
Kami pun juga bukan manusia yang sempurna, kami pasti mempunyai kesalahan, maka dari itu kami membutuhkan kebesaran hatimu untuk memaafkan kami, dan aku yakin, masalah ini bukan membuat hubungan kita menjadi renggang, tetapi malah merapatkan, menjadi lebih dekat dan saling pengertian.
“Win, kami minta maaf”
Dan akhirnya… yeah, happy ending, aku benar kan?

1 Tahun Kemudian
Kami tengah terduduk santai sambil mengobrol di kursi kami masing-masing di kelas 8A, tiba-tiba muncul sebuah suara cempreng, mengalahkan suara petir yang menyambar orang-orang alay yang tengah menyembah kaos kaki Ayu Ma, yang memecah dan menghentikan pembicaraan kami. Makhluk yang satu ini pasti Winda.
“Hoy teman-teman! Kita piknik lagi yuk!?” Haha.. ye.. yeah, ck terjadi lagi.

THE END

Cerpen Karangan: Selina

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s