Cerpen Remaja Hormati Ayah


Cerpen Remaja kali ini berjudul Hormati Ayah. Cerita Remaja ini mengisahkan hormatilah Ayah kamu.

Cerpen Remaja Cinta

Senandung adzan mengiang-ngiang di telinga menandakan umat muslim untuk solat, namun aku tak memperdulikannya. Menutup telinga dengan guling layaknya mendengarkan musik pop dengan headphone. Belum usai suara adzan, Ayah memanggilku dari balik pintu

Cerpen Remaja Romantis

“Rosse, bangun sayang. Mandilah dan cepat solat subuh” Tak dapat jawabanku Ayah masuk dan beginilah hasilnya “Rosse..” Mengguncang pelan tubuh mungilku
“Sepuluh menit lagi yah” Ayah.. apa ayah tidak tau, aku baru tidur pada jam dua malam dengan tugas yang tersisa di meja belajar yah. Aku protes tapi suara yang keluar terdengar seperti tikus kejepit yang terdengar samar.
“Rosse. Allah tidak menyukai hambanya yang menyianyiakan waktu, lebih cepat lebih baik. Ayo bangun” Dengan berat mata aku bangkit tanpa menjawab dan mengarahkan kakiku menuju kamar mandi.

Cerpen Remaja Cinta Romantis 6dec3-cerpen2bcinta c9ed3-cerpen-cinta-terbaru

“Ayah, ayo cepat yah nanti Rosse telat. Langit pun sudah gelap dan ingin memuntahkan air matanya” Teriakku. Entahlah, walau aku sudah SMA tetap saja sifatku masih seperti anak SMP bahkan menyentuh SD, dengan Ayah sendiri pun aku berani meneriakinya tak sopan, sebelumnya aku tak begini bahkan pada masa SMP sifatku lebih baik dari anak SMA tapi semua berubah ketika sebuah kecelakaan menimpa Ibu dan adik lelakiku upss maksudku calon adik laki-lakiku. Ruang UGD dimana seorang ibu sedang mati-matian mengeluarkan janin kecil yang terlihat besar itu. Pada bulan ke delapan dan belum saatnya ia keluar namun karena terjadinya pendarahan hebat, mereka berdua tak terselamatkan. Tragis sekali, ini bagai mimpi buruk yang menjadi kenyataan bagiku, ayah dan siapa lagi? Aku hanya punya ayah dan dia satu-satunya keluarga yang aku punya.

Dengan motor oren’nya ia mengantarku ke sekolah dengan motor oren’nya pula ia menyampaikan kabar untuk mereka yang menunggu kabar baik/buruk dari sang pengirim, ya kalian benar ia adalah pegawai pos. Namun sulit menyayangi ayah layaknya tidak terjadi apa-apa. Kenangan indahku bersama keluarga separuhnya sudah terkubur bersama kenangan ibu dan adik laki-lakiku.
“Iya tunggu sebentar Rosse” Teriaknya dari dalam rumah.

Sesampainya di halaman sekolah sampai disitu pula ayah memberhentikan motornya. Aku mencium tangannya dan ada yang aneh, ayah mencium keningku
“Belajar yang benar sayang. Assalamualaikum”
“Bye Ayah” Aku memandangi punggungnya hingga tak terlihat, “Tumben sekali” gumamku sambil memegangi kening yang baru saja dikecup manis oleh ayah. Belum ada tujuh langkah langit sudah menumpahkan kesedihannya yang semakin lama semakin menjadi bom air “Uuh, sial sekali” Gerutuku dalam hati

“Rosse-rosse tunggu aku” Teriak seseorng.
“Oh kau Tersia. Apa kabar?” Sapaku tidak lepas dengan derap langkah yang semakin ku percepat.
“Kabarku buruk, lihatlah diriku basah kuyup begini” Cemberutnya
“Tidak beda jauh denganku, ayo ke kelas” Menarik tangannya yang licin karena handbody yang ia kenakan tercampur dengan rintik hujan yang semakin besar.

Sampai di kelas. “Buggh” Menempelkan bokong di atas kursi
“Huhh.. dingin sekali” Keluh Tersia mengelap seluruh bagian tubuh yan terkena air dengan jaketnya, aku juga demikian.
“Hmm, dingin-dingin seperti ini enaknya tidur Ters” Jawabku mantap dengan meniduri kepalaku di atas meja dan ‘grrrgrggrrrrgh’..

“Rosse-rosse. Ada telpon dari ruang TU untukmu” Teriak Tersia tepat di kupingku dan tentunya tanpa diulangi pun aku sudah dengar jika ia teriak menggunakan toa mungkin kupingku sudah berdarah, eh bisa diulangi? Apa? Aku? Ruang TU? Ada apa ini?

Jika diingat-ingat aku sudah mengembalikan rapor sebelum masa deadline tiba, apa jangan-jangan.. ‘Deg-deg deg-deg’ Jantung masih berdetak namun berbeda dari sebelumnya. Tanpa ba-bi-bu aku melangkah menuruni anak tangga dan menelusuri koridor.

“Knock-knock-knock. Permisi” Aku memasuki ruang TU dengan beribu perasaan.
“Oh, Rosse Maelika Putri. Kemari nak, ada telppon dari R.S Cempaka Biru untukmu” Panggil Bu Swajry, guru sastra yang cantik dengan wajah putih bersih seindah mentari, baik dan pengertian padaku namun wajahnya murung dengan burat merah mencuat. Ada apa ini?
Seperti pada iklan-iklan tv yang menayangkan nyeri sendi, kakiku susah digerakkan. Perasaan apa ini, aneh sekali. Aku takut. Ada sangkut pautnya denganku? Ayah. Apa ayah??!! Sibuk dengan pemikiran yang diluar kewarasan, Ibu Swajry membimbing tanganku untuk mengangkat telpon yang tergeletak tak berdaya itu.

“Hallo?” Kata pertama keluar dengan sendirinya, entah kemana aku berfikir. Tiba-tiba suara di seberang mengagetkanku
“Selamat pagi. Apakah ini putri dari Bapak Rusdian Maelka Putra?” Tanya seseorang di sebrang
“Iii-iiya, ada apa dengan Ayah saya” Tanyaku gugup
“Ayah anda mengalami kecelakaan, sebaiknya anda segera datang ke RS Cempaka Biru” Aku menaruh gagang pesawat telpon perlahan
“Ya-Allah!! Apa yang terjadi dengan Ayahku?” Hatiku berkecamuk, gumpalan air tumpah tanpa ada yang memerintah. Seseorang menepuk pundakku pelan
“Rosse.. Ibu akan mengantarmu ke RS” Memecahkan suasana yang sedari tadi hening.
“Tapi bu…”
“Sudahlah, Ibu memiliki waktu luang” Aku mengelak bukan karena tidak ada orang dewasa yang mengantarku ke RS tapi, RSBC tempat Ayah dirawat adalah tempat dimana ibu memperjuang hidup dan matinya. Terasa berat untuk kesana, tapi aku juga khawatir dengan kedaan ayah.

“Permisi sus, dimana ruang yang menempatkan pasien bernama Pak Rusdi”
“Nama lengkapnya nyonya?” Tanya suster. Terlihat Bu Swajry sedang berfikir keras, mungkin mengingat nama lengkap Ayahku
“Rusdian. Rusdian Maelka Putra Sus” Jawabku dingin dan lihatlah muka Bu Swajry terlihat lega sekali.
“Pak Rusdian, setengah jam yang lalu. Dia mengalami kecelakaan hebat dan tidak sadarkan diri di Ruang Mawar 467 Nyonya”
“Oiya, terimakasih Sus” Bu Swajry menarik tanganku. Ruang demi ruang aku lewati, aku hanya bisa mengekor di belakangnya, mencium aroma khas rumah sakit. Kembali lagi mengenang masa laluku yang kelam, setiap kali mengunjungi sanak saudara maupun tetangga yang sakit, SRCB inilah tempat yang paling sering dijadikan tempat berobat oleh mereka karena selain dekat dengan rumah di RS ini juga masuk dalam program pemerintah dengan biaya gratis untuk orang yang tidak mampu. Namun semenjak ibuku dengan nama Ny. Vivi Aksoranita menjadi pasien di RSCB aku benci bau khas rumah sakit, kalian pasti tau alasannya.

Nah, Itu dia! 115 Ruang Mawar. Oh tidak, apakah ini sungguhan? Bu Swajry mempersilahkan aku untuk membuka pintu terlebih dahulu dan “Klecck” Suara pintu terbuka. Perlahan. Aku tak ingin membukanya tapi ada sebuah rasa, rasa penasaran yang sedang menggerogoti hati serta otaku. Keringat berlarian walau dalam ruang berAC.

“Rosse? oh ayolah! R.O.S.S.E!! Apa yang sedang kau lakukan di sana?!” Teriak seseorang, grh! Aku mengenal suara itu manusia bawel yang memiliki wajah manis di-dia adalah Tersia. Eh? Dimana sosoknya, aku tak menemukan batang hidungnya namun suaranya menggema di lorong ini. Tersia Anastasyawe. Semakin suara itu mendekat semakin sakit rasanya kuping ini. Seperti ada guncangan, ini-ini sepertinya gempa bumi.

“Rosse bangun!” Teriak suara itu lagi. Tubuhku terguncang kesana-kemari aku merasa ada basah-basah di bagian pipi chubbyku. Palaku pening dan kepalaku berada di atas meja dengan cairan di pipiku. Oh apakah ini? Aku sadar. Mataku terasa berat sekali.

“My Gosh Rosse! Kamu ngilerr. Hahahaaa..” Suaranya begitu keras tapi aku belum bisa memfungsikan otakku dengan baik. Basah? Aku baru menyadari ketika aku memegang pipi ada air disana. Aku baru saja bermimpi dan aku sekarang aku ngilerr. Huftt malunya.
“Apa yang terjadi?” Tanyaku pada Tersia
“Aku baru saja dari Ruang TU dan..”
“Ap-apa ada telpon dari TU untuku?!” Tanyaku tiba-tiba. Lidah serasa kelu, mimpiku menjadi kenyataan. Mulai dari Tersia yang datang tiba-tiba dan memberi tahu kalau ada telpon dari TU. Eh? Dia belum menyampaikan info sepenuhnya. Tersia mengangkat sebelah alisnya.
“Tidak… Ada apa denganmu? Belum selesai aku berbicara kau sudah memotongnya” Mukanya sedikit memerah mungkin menahan marah atas sikapku barusan.
“Lalu?”
“Maafkan aku Rosse, jika aku mengganggu tidurmu. Aku hanya ingin mengabarimu kalau Pak Edi guru fisika kita tidak masukK!!!” Teriaknya sumringah.
“Apa yang terjadi sebenarnya?” Tanyaku masih bingung antara nyata dan tidak. Segera aku ambil handphone dan mengetik nama ‘My Father – Best of Fa’ di kontak.

“Hallo Ayah?” Sapaku tak sabaran menunggu jawaban darinya. Panik.
“Ayah?” sekali lagi tak ada jawaban
“Assalamuaalaikum?” Oh ternyata ada jawaban dari sebrang, aku lupa dengan ucapan salam umat muslim.
“Waalaikumssalam yah. Ayah baik-baik saja kan yah?” Tanyaku
“Allhamdulilah baik, Ayah baru saja sampai di kantor dan tadi Ayah baru mengantarmu ke sekolah. Ada apa sayang?”
“Oh tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin berterimakasih atas kasih sayang yang ayah berikan pada Rosse yah, makasih telah menjadi motivator dalam hidupku. Aku mencintaimu yah Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam sayang” Setelah mendengar jawaban terakhir darinya. Seperti ada berjuta petasan yang meledak, jantungku berdegup kencang. Trimakasih Ya’Allah, engkau masih memberi kesempatan untuk hamba-Mu ini. Aku berjanji, akan berbuat lebih baik kepada Ayah. Amiin.

“Rosse? Kamu tidak senang?” Tersia bingung kenapa aku tak merespon seperti anak lainnya yang girang seperti kesambet setan pohon.
“hah? Tentu aku senang karena aku lupa membawa buku PR fisika guru killer itu”
“Hahahaaaaa..” Tawa kami bersamaan.

Cerpen Karangan: Vikasoana
Blog: vikasofiahdiana.blogspot.com
Gadis SMA dengan berjuta imajinasi dalam angan dan suka berangan. Pecinta manusia tampan. Penikmat semesta dengan note full’ di handphonenya. Info lengkap: https://www.facebook.com/vikasofiah.diana dan ini @vikasoana. See yaa (:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s