Category Archives: Cerpen

Cerpen Remaja Hormati Ayah

Cerpen Remaja kali ini berjudul Hormati Ayah. Cerita Remaja ini mengisahkan hormatilah Ayah kamu.

Cerpen Remaja Cinta

Senandung adzan mengiang-ngiang di telinga menandakan umat muslim untuk solat, namun aku tak memperdulikannya. Menutup telinga dengan guling layaknya mendengarkan musik pop dengan headphone. Belum usai suara adzan, Ayah memanggilku dari balik pintu

Cerpen Remaja Romantis

“Rosse, bangun sayang. Mandilah dan cepat solat subuh” Tak dapat jawabanku Ayah masuk dan beginilah hasilnya “Rosse..” Mengguncang pelan tubuh mungilku
“Sepuluh menit lagi yah” Ayah.. apa ayah tidak tau, aku baru tidur pada jam dua malam dengan tugas yang tersisa di meja belajar yah. Aku protes tapi suara yang keluar terdengar seperti tikus kejepit yang terdengar samar.
“Rosse. Allah tidak menyukai hambanya yang menyianyiakan waktu, lebih cepat lebih baik. Ayo bangun” Dengan berat mata aku bangkit tanpa menjawab dan mengarahkan kakiku menuju kamar mandi.

Cerpen Remaja Cinta Romantis 6dec3-cerpen2bcinta c9ed3-cerpen-cinta-terbaru

“Ayah, ayo cepat yah nanti Rosse telat. Langit pun sudah gelap dan ingin memuntahkan air matanya” Teriakku. Entahlah, walau aku sudah SMA tetap saja sifatku masih seperti anak SMP bahkan menyentuh SD, dengan Ayah sendiri pun aku berani meneriakinya tak sopan, sebelumnya aku tak begini bahkan pada masa SMP sifatku lebih baik dari anak SMA tapi semua berubah ketika sebuah kecelakaan menimpa Ibu dan adik lelakiku upss maksudku calon adik laki-lakiku. Ruang UGD dimana seorang ibu sedang mati-matian mengeluarkan janin kecil yang terlihat besar itu. Pada bulan ke delapan dan belum saatnya ia keluar namun karena terjadinya pendarahan hebat, mereka berdua tak terselamatkan. Tragis sekali, ini bagai mimpi buruk yang menjadi kenyataan bagiku, ayah dan siapa lagi? Aku hanya punya ayah dan dia satu-satunya keluarga yang aku punya.

Dengan motor oren’nya ia mengantarku ke sekolah dengan motor oren’nya pula ia menyampaikan kabar untuk mereka yang menunggu kabar baik/buruk dari sang pengirim, ya kalian benar ia adalah pegawai pos. Namun sulit menyayangi ayah layaknya tidak terjadi apa-apa. Kenangan indahku bersama keluarga separuhnya sudah terkubur bersama kenangan ibu dan adik laki-lakiku.
“Iya tunggu sebentar Rosse” Teriaknya dari dalam rumah.

Sesampainya di halaman sekolah sampai disitu pula ayah memberhentikan motornya. Aku mencium tangannya dan ada yang aneh, ayah mencium keningku
“Belajar yang benar sayang. Assalamualaikum”
“Bye Ayah” Aku memandangi punggungnya hingga tak terlihat, “Tumben sekali” gumamku sambil memegangi kening yang baru saja dikecup manis oleh ayah. Belum ada tujuh langkah langit sudah menumpahkan kesedihannya yang semakin lama semakin menjadi bom air “Uuh, sial sekali” Gerutuku dalam hati

“Rosse-rosse tunggu aku” Teriak seseorng.
“Oh kau Tersia. Apa kabar?” Sapaku tidak lepas dengan derap langkah yang semakin ku percepat.
“Kabarku buruk, lihatlah diriku basah kuyup begini” Cemberutnya
“Tidak beda jauh denganku, ayo ke kelas” Menarik tangannya yang licin karena handbody yang ia kenakan tercampur dengan rintik hujan yang semakin besar.

Sampai di kelas. “Buggh” Menempelkan bokong di atas kursi
“Huhh.. dingin sekali” Keluh Tersia mengelap seluruh bagian tubuh yan terkena air dengan jaketnya, aku juga demikian.
“Hmm, dingin-dingin seperti ini enaknya tidur Ters” Jawabku mantap dengan meniduri kepalaku di atas meja dan ‘grrrgrggrrrrgh’..

“Rosse-rosse. Ada telpon dari ruang TU untukmu” Teriak Tersia tepat di kupingku dan tentunya tanpa diulangi pun aku sudah dengar jika ia teriak menggunakan toa mungkin kupingku sudah berdarah, eh bisa diulangi? Apa? Aku? Ruang TU? Ada apa ini?

Jika diingat-ingat aku sudah mengembalikan rapor sebelum masa deadline tiba, apa jangan-jangan.. ‘Deg-deg deg-deg’ Jantung masih berdetak namun berbeda dari sebelumnya. Tanpa ba-bi-bu aku melangkah menuruni anak tangga dan menelusuri koridor.

“Knock-knock-knock. Permisi” Aku memasuki ruang TU dengan beribu perasaan.
“Oh, Rosse Maelika Putri. Kemari nak, ada telppon dari R.S Cempaka Biru untukmu” Panggil Bu Swajry, guru sastra yang cantik dengan wajah putih bersih seindah mentari, baik dan pengertian padaku namun wajahnya murung dengan burat merah mencuat. Ada apa ini?
Seperti pada iklan-iklan tv yang menayangkan nyeri sendi, kakiku susah digerakkan. Perasaan apa ini, aneh sekali. Aku takut. Ada sangkut pautnya denganku? Ayah. Apa ayah??!! Sibuk dengan pemikiran yang diluar kewarasan, Ibu Swajry membimbing tanganku untuk mengangkat telpon yang tergeletak tak berdaya itu.

“Hallo?” Kata pertama keluar dengan sendirinya, entah kemana aku berfikir. Tiba-tiba suara di seberang mengagetkanku
“Selamat pagi. Apakah ini putri dari Bapak Rusdian Maelka Putra?” Tanya seseorang di sebrang
“Iii-iiya, ada apa dengan Ayah saya” Tanyaku gugup
“Ayah anda mengalami kecelakaan, sebaiknya anda segera datang ke RS Cempaka Biru” Aku menaruh gagang pesawat telpon perlahan
“Ya-Allah!! Apa yang terjadi dengan Ayahku?” Hatiku berkecamuk, gumpalan air tumpah tanpa ada yang memerintah. Seseorang menepuk pundakku pelan
“Rosse.. Ibu akan mengantarmu ke RS” Memecahkan suasana yang sedari tadi hening.
“Tapi bu…”
“Sudahlah, Ibu memiliki waktu luang” Aku mengelak bukan karena tidak ada orang dewasa yang mengantarku ke RS tapi, RSBC tempat Ayah dirawat adalah tempat dimana ibu memperjuang hidup dan matinya. Terasa berat untuk kesana, tapi aku juga khawatir dengan kedaan ayah.

“Permisi sus, dimana ruang yang menempatkan pasien bernama Pak Rusdi”
“Nama lengkapnya nyonya?” Tanya suster. Terlihat Bu Swajry sedang berfikir keras, mungkin mengingat nama lengkap Ayahku
“Rusdian. Rusdian Maelka Putra Sus” Jawabku dingin dan lihatlah muka Bu Swajry terlihat lega sekali.
“Pak Rusdian, setengah jam yang lalu. Dia mengalami kecelakaan hebat dan tidak sadarkan diri di Ruang Mawar 467 Nyonya”
“Oiya, terimakasih Sus” Bu Swajry menarik tanganku. Ruang demi ruang aku lewati, aku hanya bisa mengekor di belakangnya, mencium aroma khas rumah sakit. Kembali lagi mengenang masa laluku yang kelam, setiap kali mengunjungi sanak saudara maupun tetangga yang sakit, SRCB inilah tempat yang paling sering dijadikan tempat berobat oleh mereka karena selain dekat dengan rumah di RS ini juga masuk dalam program pemerintah dengan biaya gratis untuk orang yang tidak mampu. Namun semenjak ibuku dengan nama Ny. Vivi Aksoranita menjadi pasien di RSCB aku benci bau khas rumah sakit, kalian pasti tau alasannya.

Nah, Itu dia! 115 Ruang Mawar. Oh tidak, apakah ini sungguhan? Bu Swajry mempersilahkan aku untuk membuka pintu terlebih dahulu dan “Klecck” Suara pintu terbuka. Perlahan. Aku tak ingin membukanya tapi ada sebuah rasa, rasa penasaran yang sedang menggerogoti hati serta otaku. Keringat berlarian walau dalam ruang berAC.

“Rosse? oh ayolah! R.O.S.S.E!! Apa yang sedang kau lakukan di sana?!” Teriak seseorang, grh! Aku mengenal suara itu manusia bawel yang memiliki wajah manis di-dia adalah Tersia. Eh? Dimana sosoknya, aku tak menemukan batang hidungnya namun suaranya menggema di lorong ini. Tersia Anastasyawe. Semakin suara itu mendekat semakin sakit rasanya kuping ini. Seperti ada guncangan, ini-ini sepertinya gempa bumi.

“Rosse bangun!” Teriak suara itu lagi. Tubuhku terguncang kesana-kemari aku merasa ada basah-basah di bagian pipi chubbyku. Palaku pening dan kepalaku berada di atas meja dengan cairan di pipiku. Oh apakah ini? Aku sadar. Mataku terasa berat sekali.

“My Gosh Rosse! Kamu ngilerr. Hahahaaa..” Suaranya begitu keras tapi aku belum bisa memfungsikan otakku dengan baik. Basah? Aku baru menyadari ketika aku memegang pipi ada air disana. Aku baru saja bermimpi dan aku sekarang aku ngilerr. Huftt malunya.
“Apa yang terjadi?” Tanyaku pada Tersia
“Aku baru saja dari Ruang TU dan..”
“Ap-apa ada telpon dari TU untuku?!” Tanyaku tiba-tiba. Lidah serasa kelu, mimpiku menjadi kenyataan. Mulai dari Tersia yang datang tiba-tiba dan memberi tahu kalau ada telpon dari TU. Eh? Dia belum menyampaikan info sepenuhnya. Tersia mengangkat sebelah alisnya.
“Tidak… Ada apa denganmu? Belum selesai aku berbicara kau sudah memotongnya” Mukanya sedikit memerah mungkin menahan marah atas sikapku barusan.
“Lalu?”
“Maafkan aku Rosse, jika aku mengganggu tidurmu. Aku hanya ingin mengabarimu kalau Pak Edi guru fisika kita tidak masukK!!!” Teriaknya sumringah.
“Apa yang terjadi sebenarnya?” Tanyaku masih bingung antara nyata dan tidak. Segera aku ambil handphone dan mengetik nama ‘My Father – Best of Fa’ di kontak.

“Hallo Ayah?” Sapaku tak sabaran menunggu jawaban darinya. Panik.
“Ayah?” sekali lagi tak ada jawaban
“Assalamuaalaikum?” Oh ternyata ada jawaban dari sebrang, aku lupa dengan ucapan salam umat muslim.
“Waalaikumssalam yah. Ayah baik-baik saja kan yah?” Tanyaku
“Allhamdulilah baik, Ayah baru saja sampai di kantor dan tadi Ayah baru mengantarmu ke sekolah. Ada apa sayang?”
“Oh tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin berterimakasih atas kasih sayang yang ayah berikan pada Rosse yah, makasih telah menjadi motivator dalam hidupku. Aku mencintaimu yah Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam sayang” Setelah mendengar jawaban terakhir darinya. Seperti ada berjuta petasan yang meledak, jantungku berdegup kencang. Trimakasih Ya’Allah, engkau masih memberi kesempatan untuk hamba-Mu ini. Aku berjanji, akan berbuat lebih baik kepada Ayah. Amiin.

“Rosse? Kamu tidak senang?” Tersia bingung kenapa aku tak merespon seperti anak lainnya yang girang seperti kesambet setan pohon.
“hah? Tentu aku senang karena aku lupa membawa buku PR fisika guru killer itu”
“Hahahaaaaa..” Tawa kami bersamaan.

Cerpen Karangan: Vikasoana
Blog: vikasofiahdiana.blogspot.com
Gadis SMA dengan berjuta imajinasi dalam angan dan suka berangan. Pecinta manusia tampan. Penikmat semesta dengan note full’ di handphonenya. Info lengkap: https://www.facebook.com/vikasofiah.diana dan ini @vikasoana. See yaa (:

Advertisements

Cerpen Remaja Cinta Melahirkan Persahabatan

Cerpen Remaja Berjudul Cinta Melahirkan Persahabatan. Cerita Remaja ini mengisahkan cinta yang akhirnya menjadi persahabatan.

Cerpen Remaja Cinta

Kumandang suara adzan membangunkanku dari mimpiku. Semangatku mengalahkan rasa kantukku. Selesai shalat subuh, aku bersiap-siap untuk pergi sekolah. Ya, aku memang sudah tak sabar untuk pergi sekolah, karena hari ini merupakan hari pertamaku menginjakan kaki di SMP. Aku sudah tak sabar untuk bertemu dengan teman baru…

Cerpen Remaja Cerpen Remaja Cinta Romantis 6dec3-cerpen2bcinta c9ed3-cerpen-cinta-terbaru 6f5b9-cerpenpersahabatan2011 Cerpen Remaja Romantis

Udara pagi yang sejuk mengiringi langkahku menuju sekolah. Sesampainnya di sekolah, aku bertemu dengan teman lamaku dan berkenalan dengan teman baruku. Tak terkecuali dengan seseorang bernama Glen. Lelaki yang humoris, baik dan cukup ramah.

Teman sebangku ku adalah Felia. Dia adalah wanita yang pemalu, baik dan manis. Saat kami sedang berbincang, tiba-tiba Felia berkata padaku..
“Mey, mungkin perasaanku aja atau dia beneran liatin kamu ya?”
“Dia? Siapa?” Tanyaku
“Si Glen” jawab Felia
“Masa sih? Sepertinya perasaan kamu aja deh.” kata ku
“Mungkin…” kata Felia

Jujur saja, aku tak memperdulikan hal itu. Namun, tak hanya Felia yang berkata seperti itu, teman-teman ku yang lain juga berkata seperti itu. Sejak saat itu aku selalu memperhatikan Glen. Glen semakin baik terhadapku. Dia seringkali membantuku. Dia selalu tersenyum kepadaku.

Langit cerah menemaniku ke sekolah, panas matahari tak menghalangi langkahku. Hari itu, hari pertama aku masuk siang setelah sebelumnya aku masuk pagi saat MOS. Setelah libur panjang karena lebaran, aku harus masuk sekolah lagi. Sebelum masuk ke dalam kelas, aku sempat melihat senyuman khas dari seseorang. Glen sedang berkumpul dengan teman-temannya, dia tersenyum padaku. Ku lihat lesung pipitnya yang sangat manis. Aku pun tertarik padanya, mungkin… Aku jatih cinta padanya.

27 Agustus 2013. “Fel, gimana ya, caranya?” tanyaku
“Cara apa?” Tanya Felia
“Cara, agar Glen mengetahui perasaanku” Jawabku
“Hmmm… Kamu bilang aja ke dia. Siapa tau, dia suka sama kamu. Kalian bisa jadian kan?” Kata Felia
“Gak semudah itu! Aku kan perempuan.. Masa aku duluan yang bilang? Harusnya lelaki lebih dulu yang bilang. Lagi pula… Kami berbeda. Keyakinan kami berbeda. Dia beragama kristen, sedangkan aku islam.” Kata ku
“Ya, benar! Tapi aku pasti bantuin kamu! Tenang aja Mey” Kata Felia
“Caranya?” Tanya ku
“Lihat aja nanti!” Jawab Felia sambil meninggalkanku…

28 Agustus 2013. Ku lihat Felia sedang bersama dengan Glen. Mereka terlihat sedang membicarakan suatu hal. Aku melihat ekspresi Glen yang terlihat bingung. Aku pun menghampiri keduanya. Saat aku berada di dekat mereka, Felia langsung tersenyum. Glen kaget melihatku, dia terlihat malu dan memalingkan wajahnya. Dia langsung tersenyum kepadaku dan meninggalkan aku yang sedang bersama Felia. Aku bingung dengan sikapnya. Tak biasanya dia begitu.. Biasanya, aku yang bersikap begitu terhadapnya. Baru kali ini aku melihatnya dia tersipu malu saat melihatku, aku sangat menyukai ekspresinya saat itu.

Sepulang sekolah, dia menghampiriku. Saat itu dia langsung menyatakan perasaannya terhadapku. Aku sangat bingung, antara percaya atau tidak percaya. Saat itu aku hanya diam. Hening! Tak ada yang berbicara.. Setelah beberapa menit suasana menjadi hening, aku mulai berbicara padanya. “Glen… Makasih ya, udah menyatakan perasaan kamu. Tapi, aku masih bingung. Aku belum bisa jawab.” Kata ku
“Ya… Enggak apa-apa kok. Kamu bisa jawab kapan aja, Mey. Aku gak akan maksa kamu untuk jawab sekarang.” Kata Glen sambil tersenyum
Aku pergi meninggalkannya. Aku sempat berbalik badan tuk melihatnya, dia masih berdiri di tempat semula sambil tersenyum ke arahku. Aku membalas senyumannya dan kembali berjalan untuk pulang.

29 Agustus 2013. Aku sudah berencana untuk menjawab pertanyaan Glen. Aku tak ingin menggantungnya begitu saja. Sepulang sekolah aku menghampirinya.
“Glen! Tunggu!” Kata ku sambil mengejarnya.
Glen berhenti dan tersenyum. “Ada apa?” Tanya Glen
“Hmmm… Soal yang kemarin, aku mau jawab pertanyaan kamu” Kata ku
“Soal apa?” Tanya Glen dengan nada mengejek dan wajah yang pura-pura bingung.
Aku tak menghiraukannya dan melanjutkan kata-kataku. “Tadinya, aku enggak niat untuk jawab sekarang. Tapi aku juga enggak mau ngegantung kamu. Jadi, aku…” Kata-kata ku terputus. Mulutku terkunci. Aku sendiri bingung dengan sikapku.
“Kamu kenapa, Mey?” Tanya Glen
Aku menatap matanya. Seakan terhipnotis, aku langsung tersenyum dan berkata “Aku udah punya jawaban Glen. Sebetulnya, aku juga suka sama kamu. Aku mau jadi pacar kamu…”

Sudah 3 bulan aku berpacaran dengan Glen… Banyak cerita tentang dia yang tak bisa aku lupakan. Aku semakin mencintainya, begitu pun dengan dia. 2 Desember 2013, aku melihatnya di lapangan. Saat itu sedang ada di pelajaran olahraga. Seusai pelajaran olahraga, semua murid pergi ke kantin. Kelas sepi, hanya ada aku, Glen dan Felia. Seperti biasa, Glen langsung tersenyum saat melihatku. Namun kali ini aku tak membalas senyumannya. Glen tampak bingung. Sedangkan Felia sudah pergi meninggalkan kami.
“Kamu kenapa?” Tanya Glen
“Glen, maaf…” Kata ku
“Maaf?” Glen semakin bingung
“Ya. Menurutku, hubungan kita cukup sampai disini..” Ucapan ku terputus
“Maksud kamu apa sih?! Aku enggak ngerti!” Kata Glen
“Kita berbeda keyakinan. Itu adalah faktanya! Aku sayang sama kamu, makannya aku lakuin ini! Aku enggak mau kamu mengecewakan keluargamu. Lagi pula, aku ingin fokus belajar” Aku menjelaskan semuanya, sebenarnya ini semua ku lakukan karena orangtuaku yang melarangku untuk berhubungan dengan Glen. ‘Bodohnya aku! Mengapa aku menerima Glen? Seharusnya, aku menolaknya dari awal!’ aku memaki diriku sendiri dalam hati. Glen sudah meninggalkanku.

Setelah aku putus dengan Glen, banyak lelaki yang mendekatiku. Begitu juga dengan Glen, banyak wanita yang mendekatinya. Namun kami berdua masih saling mencintai. Kami tak pernah tertarik pada orang lain. Walaupun sudah putus, kami masih berhubungan dengan baik sebagai sepasang sahabat. Aku menikmati hari-hariku bersamanya. Walau kami hanya sebatas sahabat, tapi kami saling mencintai. Aku harap selamanya kami akan tetap begini…

“Glen… Kamu adalah cinta pertamaku. Mungkin kita tak di takdirkan untuk bersama. Semoga kamu mendapatkan pasangan yang lebih baik dariku. Aku selalu mencintaimu”

Cerpen Karangan: Meyla Nur Oktaviani
Facebook: https://www.facebook.com/mey.okta.9

Cerpen Remaja Serakha

Cerpen Remaja kali ini Berjudul Serakah. Cerita Remaja ini tentna gserakah nya orang, semoga dapat terhibur.

Cerpen Remaja Cinta Cerpen Remaja

Ini bukan untuk yang pertama kalinya, tapi tetap saja aku tidak menyadarinya, sadar… jika ditanya mengenai hal itu, aku akan menjawab dengan cepat dan muram ‘ya, tapi telat’, mungkin aku harus sering meladeni ayahku yang bersengot tebal serta berkutu, karena sering ia garuk sehabis tangan tambun kehitaman itu ngupil serta memberantas dengan bringas dan dengan ekspresi mirip cecak yang asmanya kumat ke kudis serta koreng yang terpatri indah di atas kulitnya dengan hikmatnya.

Cerpen Remaja Cerpen Remaja Romantis Cerpen Remaja Cinta Romantis

Memenangkan duel saling tawer antar kedua kubu sedarah sekandung, sekantut dan sesama lebat bulu keteknya, dan hasilnya, aku akan lebih peka pada sifat serta perubahan yang terjadi pada orang-orang di sekitarku, yeah.. mungkin, tidak nyambung memang.

Kejadian itu terulang lagi, padahal orkestra rintik hujan yang jatuh dari atas genteng baru dimulai, angin dingin khas nuansa sehabis hujan baru menyapa dan bermain-main dengan rambutku, tapi aura yang ia keluarkan saat melintas di hadapanku begitu gelap, saat mulut ini menyerukan namanya, respon yang diterima jauh dari pemikiran di otakku yang cukup terbatas ini.

Ekspresi yang begitu dingin dan tatapan mata yang biarpun sedikit ada hiasan tahi mata disana, tetap saja membuatku tersudut. Dia yang hyperaktif, berkelakuan mirip kera setengah tambun bergigi emas, bersikap seolah dia terlahir dengan sendok perak di mulutnya, perkasa dan suka kentut di muka Alya Zahra, dialah Winda, kawanku yang tengah memusuhiku.

“Kembalikan uangku nanti.” Hanya kalimat dingin itu yang dikeluarkannya jika berhadapan denganku. Baru siang ini aku menyadarinya, paginya ku pikir ia tengah terkena awan mendung saja, jadi aku bersikap seperti biasa saja padanya, ternyata wajah muramnya itu disebabkan oleh hal ‘itu’.

Waktu pulang masih setengah jam lagi, tapi punggung kurus itu tetap tak membiarkanku untuk menatap wajah yang seraga dengannya.

Hampir 3 hari Winda bersikap dingin pada awalnya yang tentu saja baru kusadari, begitu dingin sampai-sampai ia sudah sangat jarang melakukan ritual goib (gaib) peningkat kesehatan tubuh serta memicu adanya serangan jantung yang katanya wajib ditarikan dan di tonton oleh sohib-sohibnya, terutama kami.

“Ayo! Senam keluarga!!”
Ciptaan yang jika dilihat akan berbuih dan sawan sesaat, karena berikutnya malaikat maut tahu-tahu sudah berada di sebelah kita sambil ‘say hallo’ (berkata halo) pula, alias sudah mati di tempat, terlalu kagum mungkin, kalau kami, tenang… kami sudah kebal. Memang asyik jika melihatnya sambil makan pentol, tapi jika disuruh untuk menarikannya, mungkin nanti, saat Alya menghuntas (menarik) habis urat malu kami, itu pun masih mengalami perdebatan batin antara ‘ingin’ dan’tidak’.

Di lihat dari sudut manapun, sikap kami sangat kekanakan, sebenarnya… yang mengawali masalah ini semua adalah aku, Delia, dan Fivi, kami akui itu, tapi belum kami selesaikan masalah itu. Aku terlalu menganggap masalah ‘itu’ sepele, sehingga aksi Winda yang cukup ekstrem namun memang tidak lebih extrem jika dibandingkan dengan aksi menepakan (menaruh/meletakkan) coklat di giginya dan Alya, dan aksinya itu bertahan selama seminggu.

Jengah juga jika terus mengarungi atmosfer suram seperti ini dengan waktu yang lama. Penjelasan ibu guru di depan terlalu membosankan, mataku lebih memilih memandang punggung Winda yang duduk di hadapanku yang terasa begitu menarik bagiku, kursiku terletak di bagian belakang, jadi ibu guru tak kan bisa melihat perbuatanku ini.
“Sampai kapan kau berbuat begini, hm?”
Otakku tiba-tiba memutarkan adegan lama, adegan dimana semua permasalahan ini dimulai, kalian ingin tahu, baik! Kita putar kembali kejadian di masa lalu, tepatnya ke 1 minggu yang lalu.

*Mengulang* (Flashback)

“Bagaimana kalau minggu ini kita makan-makan?” Winda berujar dengan riang, kawan-kawannya termasuk aku yang notabene rakus semua langsung mengangguk mantap.

Anak-anak kelas 7A sibuk dengan urusannya masing-masing, pelajaran memang sudah dimulai, namun guru yang mengajar belum juga terlihat batang hidungnya, membuat beberapa murid mengambil kesempatan ini untuk ribut dan berbuat sesuka hati.

“Dimana?” Fivi bertanya, Winda tampak berpikir,
“Di kebun milik salah satu keluargamu saja bagaimana?”
Semua mengangguk setuju, disana memang memiliki suasana yang sejuk, ditambah ada pondok kecil serta pohon-pohon pisang yang menambah acara piknikan kami nanti.
“Peralatan serta makanan akan mulai disiapkan, kita juga akan mengumpulkan uang, ya masing-masing mengumpulkan kira-kira 7 atau 8 ribu saja sudah cukup untuk membeli udang dan cemilan lain jika uang masih bersisa.” Ide yang sangat bagus, Win.
Akh, sungguh tidak sabar, tapi hari minggu masih 2 hari lagi, yah… ditunggu saja, toh nantinya perutku akan terpuaskan juga, hehe.

Dari hari ke hari, kami selalu membicarakan persiapkan serta pelaksanaan acara piknik kami dengan semangat, di jam berapa kami berangkat kesana, bagaimana perjalanan kami yang akan berangkat bersama-sama kesana, apakah makanan yang akan dimakan nanti enak dan siapakah yang paling banyak menelannya, sipakah nanti perwakilan yang akan membeli udang dan makanan lainnya, siapa yang akan meracik dan dibuat apa ya enaknya.
“Wwuaaahh… pasti menyenangkan!”

Menjelang hari sabtu, ternyata tugas menumpuk bahkan tingginya seolah mengalahkan tinggi geudng-gedung pencakar langit, terus menghantui di setiap malamnya, meminta kami agar mau membagi waktu untuk mengerjakannya, tentu saja, tugas itu salah satunya ya….

“Rabu depan, kalian akan praktek membuat kue..”
Semua kelompok sepakat melakukan latihan alias percobaan membuat kue agar tidak gagal nantinya tepat di hari minggu, kami panik, pastinya.
“Kupikir nantinya akan lancar-lancar saja, ternyata… semua tidak selalu berjalan sesuai harapan kita ya?” Keluhku.

Yah, mau tak mau kami ikuti saja dulu alur yang ada. Kelompokku berbeda dengan Winda, Alya dan Fivi berada dalam satu kelompok, Delia juga berbeda, sulit kalau begini untuk berkumpul, berangkat ke kebun bersama-sama.
“Jangan khawatir, kelompok kita masing-masing melakukan percobaan pada pagi hari minggu, jadi siangnya kita masih bisa berkumpul dan bersiap-siap…” Aku sedikit lega mendengar penuturan Alya barusan, yah…tak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja, mungkin.

Minggunya, kami mulai melakukan tugas kelompok kami. Kelompokku selesai dengan tugasnya pukul 13.00 siang, aku pun segera pulang, untungnya setelah sampai di rumah, Fivi dan Delia sudah duduk anteng menungguku, senyumku langsung mengembang, biarpun tadinya lelah dan sempat bermandikan keringat, semangatku langsung naik ke permukaan.

Udang sudah dibeli pada pagi hari olehku dan Fivi, jadi tinggal nasinya saja. Kami pun menanak nasi sebelum pergi.
“Kita olah udangnya dengan rasa pedas dan gurih, lalu taruh ke dalam kotak nasi yang indah dan dibeli karena ada diskon, keren..”
“Eh, Winda dan Alya mana?” Fivi bertanya, yang langsung membuat hatiku dihantam dan dihujani beribu pertanyaan.
“Alya sekelompok denganmu kan?”
“Tidak!”
Aku menepuk jidatku, kalau mereka tidak ada, bagaimana kami bisa melakuakan piknik, gawat! Jam sudah menunjukkan pukul 15.00 siang, kalau tidak dimakan sekarang, udangnya tidak akan sedap, aduh~. Ibuku tiba-tiba datang menghampiri kami yang tengah dilanda kegundahan.
“Tadi Winda ada menunggumu disini, tapi karena kau tak datang-datang, ia pulang ke rumahnya.”
Aku terdiam, aku yakin kami bertiga terdiam karena sibuk melawan hawa nafsu makan masing-masing, namun sepertinya kali ini kami harus mengaku kalah.
Seolah tak terjadi apapun atau tak meninggalkan siapapun, kami berteriak.
“AYO BERANGKAT!!!”

Aku menggunakan sepeda merah milik ibuku, Fivi dan Delia menggunakan sepeda mereka sendiri, melihat tampang mereka sendiri, melihat tampang kami yang seperti anjing yang tengah puasa namun tak kuat, dan memilih ingin membatalkannya secepat mungkin, membuat kami langsung memacu sepeda kami, tak peduli jika nantinya akan ada yang terbang ke selokan, menabrak kai-kai yang membuat manula itu terpelanting dengan gaya balet ke belakang, melindas badan Santoso yang lagi asyik jemuran di pantai sama om-om bule yang keriputan, satu penggambaran kami selap (tak memikirkan apapun, tancap saja) pergi kesana.

Matahari hanya bersinar bak kehabisan baterai, kami duduk di atas tikar yang dipayungi oleh beberapa pohon pisang serta pondok yang cukup rindang, dengan pandangan lapar, kami tata makanan yang kami bawa ke atas tikar.
“Mari makan!” teriakku, namun mungkin karena terlalu bersemangat dan selapnya, Delia dan Fivi memilih pipis dulu, ku suruh saja mereka pipis di antara semak-semak, kan ada untungnya juga, bisa menggantikan fungsi rondap, melayukan tanaman.
Diam-diam saat mereka sibuk di kejauhan, aku bergumam.
“Mudah-mudahan tak ada ular yang berkepala Emme disana.” Dan aku pun langsung melahap makanannya. Delia yang selesai dahulu langsung memarahiku.
“Hey.. hey, kenapa dimakan sendiri!? Ajak-ajak kenapa.” Dan kami pun mulai melahap es bersama, sampai tersisa 1, selanjutnya kami hanya bisa nyengir di hadapan Fivi.

Kami bertiga mulai melahap udang sambil memutar lagu dari HP Fivi, melupakan seseorang disana yang juga menyumbangkan uangnya untuk membeli udang ini. Merasa minumannya kurang, mereka menyuruhku untuk membelinya, aku tidak bisa protes.. masalahnya perutku keras kepala. Langsung kunaiki sepeda ibuku yang saat dinaiki seolah berbunyi ingin hancur itu dengan cepat, takut makanan yang ada akan habis di tangan 2 ABG buas.

Tak peduli sepeda ini hampir menabrkan seorang ibu dan kedua anaknya, tak peduli tatapan orang yang melihatku seolah aku ini babi yang bergaya-gaya menjadi banteng yang hendak menyeruduk orang.
“Beli bu!” ku beli dengan cepat dan balik dengan kilat.
Untungnya udangnya masih ada. Kami kembali akan sambil tertawa lepas karena keselek serta kentut kelepasan

Hari senin pun tiba, kami menyambutnya dengan menceritakan kembali kejadian yang terjadi saat kami piknik di dalam kelas. Alya tidak marah sama sekali, karen ia juga menikmati kisah kami, tetapi ketika Winda menghampiri kami, ia langsung berwajah dingin.
“Kalian kemana saja!?”
“Ke.. kebun..” jawabku gugup, Winda mendengus.
“Aku menunggu di rumahmu Selin, namun kau tidak datang-datang juga, jadi aku memilih pulang, menunggu klarifikasi tentang acara piknikan kita, tapi apa yang kalian lakukan! Meninggalkan aku dan Aly begitu saja!!”
“I.. itu..” Winda menatap kami tajam.
“Seharusnya kalian beritahu kami kalau kalian ingin kesana! Jika ini akhirnya, menyesal aku melakukannya!!” Dan ia pergi, meninggalkan aura kecanggungan yang tak terasa olehku.

*Pengulangan berakhir* (Flashback end)

Dan dari hari itu, Winda tak pernah lagi berbicara pada kami seputar pembicaraan konyol yang dulu sering ia lontarkan, dia hanya mendatangi kami untuk mengingatkan kami bahwa ia ingin uangnya yang kami gunakan untuk membeli udang kembali.

Semua temanku merasa tak enak dengan Winda, tetapi aku mengatakan bahwa nantinya juga Winda akan kembali lagi, namun sampai hari ini, ia tetap bersikap dingin pada kami, aku salah, aku terlalu menganggap remeh masalah, yeah… biarpun ini wajar karena ini kali pertama Winda marah pada kami, tapi tetap saja, huh… sepertinya aku harus minta maaf.

Tiba-tiba Delia berbicara padaku.
“Sepertinya Winda marah padaku.” Aku tertegun.
“Lihatlah sikap dinginnya akhir-akhir ini, semua tertuju padaku, aku benar-benar merasa bersalah” Semenjak masalah ini terjadi, Delia adalah orang yang paling merasa tertekan, aku tersenyum miris, aku bahkan bersikap biasa saja dan sama sekali tak merasakan perubahan ganjil pada Winda, payah.
Kukecilakan suaraku agar tak terdengar oleh ibu guru.
“Sebaiknya kita minta maaf padanya besok, bagaimana?” Delia mengangguk mantap, dan setelahnya bel pulang segera berdentang. Win, kami benar-benar menyesal, maafkan kami, kami tahu kami yang salah, tapi kami benar-benar tidak bermaksud untuk melakukannya, kami janji insya Allah ini tidak akan terjadi lagi, jadi tolong jangan benci kami, kami sayang padamu Win, kami akan belajar dari sini, dan ke depannya akan memperbaiki kesalahan yang ada, nasi memang sudah menjadi bubur, tetapi bubur itu masih bisa ditambahi dengan ayam, kecap dan kerupuk kan.
Kami pun juga bukan manusia yang sempurna, kami pasti mempunyai kesalahan, maka dari itu kami membutuhkan kebesaran hatimu untuk memaafkan kami, dan aku yakin, masalah ini bukan membuat hubungan kita menjadi renggang, tetapi malah merapatkan, menjadi lebih dekat dan saling pengertian.
“Win, kami minta maaf”
Dan akhirnya… yeah, happy ending, aku benar kan?

1 Tahun Kemudian
Kami tengah terduduk santai sambil mengobrol di kursi kami masing-masing di kelas 8A, tiba-tiba muncul sebuah suara cempreng, mengalahkan suara petir yang menyambar orang-orang alay yang tengah menyembah kaos kaki Ayu Ma, yang memecah dan menghentikan pembicaraan kami. Makhluk yang satu ini pasti Winda.
“Hoy teman-teman! Kita piknik lagi yuk!?” Haha.. ye.. yeah, ck terjadi lagi.

THE END

Cerpen Karangan: Selina

Cerpen Remaja Berpisah Bukan Berarti Berakhir

Cerpen Remaja kali ini berjudul Berpisah Bukan Berarti Berakhir. Cerita Remaja ini mengisah kisah romantis cinta.

Cerpen Remaja Cinta

Siang itu, jalanan lumayan sepi. Doni mengayuh sepedanya dengan cepat, diikuti oleh Rahma yang sedikit tertinggal di belakang, namun berusaha agar posisinya sejajar dengan Doni, hingga akhirnya mereka bersebelahan. Dengan perasaan bangga, karena lulus dengan nilai yang sangat memuaskan, kedua orang sahabat ini berteriak kegirangan sambil sesekali tertawa dengan sepeda yang masih melaju tidak terkendali, dan..
Brukkk!

Cerpen Remaja
Rahma tidak sengaja menabrak sebuah kayu yang tergeletak di jalan hingga membuat sepedanya tidak seimbang dan malah membelok ke arah Doni yang membuat mereka berdua jatuh tersungkur.

Cerpen Remaja Cinta Romantis

Doni meringis kesakitan. Tadi mereka terjatuh cukup parah. Doni mendapati lecet di kedua kakinya, dan seragam sekolahnya sedikit berlepotan merah, lengannya mengeluarkan darah, terluka. Sambil berusaha bangkit, matanya tertuju pada Rahma yang masih tergeletak di depannya.

Cerpen Remaja Romantis

“Kamu baik-baik saja?” Doni bertanya khawatir.
“Oh, hanya lecet” Jawab Rahma, seraya menunjukkan lengannya. “Maaf, aku ceroboh. Kamu.. Hah lenganmu mengeluarkan darah!” Lanjutnya kaget melihat lengan kiri Doni.
“Hanya luka kecil” Jawab Doni enteng sambil membantu Rahma untuk berdiri.
“Tidak, kita harus segera mengobatinya” Tegas Rahma.

Cerpen Remaja

Doni merasa geli melihat wajah Rahma yang berubah panik. Ini bukan sepenuhnya salah Rahma yang menabraknya, tapi juga karena dirinya yang membuat Rahma ikut mengayuh sepeda dengan kencang. Tentu saja juga karena mereka bersepeda tidak memperhatikan jalan karena sedang tertawa kegirangan.

“Aaau.. Perih.. Jangan kasar!” Ringis Doni yang sedang dibersihkan lukanya oleh Rahma ketika mereka sampai di rumahnya.
“Diam, Bawel. Lukamu ini cukup dalam, bisa infeksi” Katanya sok tahu tetapi dengan tampang serius.
“Dan aku akan menyalahkanmu, Cerewet” Balasnya.
“Aku? Bukankah kamu yang mengajakku ngebut?” Protes Rahma.
“Tapi, kamu yang menabrakku” Protes Doni balik.
“Hehee.. Oke, maaf. Aku tadi terlalu lepas, sangking bahagianya bisa lulus dengan nilai IPA yang wow. Dan.. Tentu saja, sebentar lagi akan menjadi seorang mahasiswa” Ucap Rahma dengan bangga.
Doni tidak menanggapi. Dia terdiam. Ada yang aneh dengannya saat mendengar Rahma menyebut akan menjadi seorang mahasiswa. Tentu saja dia juga senang, tapi sesuatu seperti mengganjal perasaannya. Doni melamun.
“Hei, Kenapa? Bukankah nilai matematika kamu juga wow? Bahkan nilai lainnya cukup memuaskan?” Tanya Rahma heran melihat sahabatnya ini menjadi seperti orang patah semangat.
Tidak ada jawaban dari Doni. Dia masih melamun, entah apa yang sedang dia pikirkan. Wajahnya jadi muram. Dia memang lulus dengan nilai yang memuaskan, bahkan sangat-sangat memuaskan. Namun, justru karena itulah masalahnya. Tapi, entahlah.

Rahma telah selesai membalut luka Doni, namun bingung masih menggeliat ketika melihat Doni yang sedari tadi hanya diam. Akhirnya, Rahma memutuskan untuk..
“Aaauuu..” Teriak Doni meringis lebih kencang dari ringisan sebelumnya. “Sakit, Bawel nakal!” Lanjutnya tetap dengan suara yang kencang karena kaget. Rahma telah memukul pelan lukanya, tapi menimbulkan sakit yang luar biasa.
“Hahaha..” Rahma terbahak melihat reaksi Doni yang tidak disangkanya akan kesakitan berlebihan seperti itu. “Siapa suruh, orang ngomong tidak dihiraukan?” Lanjutnya ketika tawanya sudah reda.
“Tapi tidak perlu memukul lukaku, Bawel nakal!” Kesalnya.
“Dasar, Cerewet payah!” Rahma membalas. “Sore nanti, kutunggu di taman. Kita merayakan kelulusan ini” Lanjutnya. “Aku pulang dulu ya, bye” Lanjutnya lagi dan berlalu keluar.
Doni menurut saja dengan ajakan sahabatnya itu. Mereka sangat akrab dan memang sudah menjadi sahabat baik sejak kecil karena rumah mereka yang dekat, berhadapan. Orangtua mereka juga saling kenal baik.

“Kamu yang mengajak, kamu yang telat. Dasar, Bawel payah!” Cetus Doni kesal saat Rahma datang, ketika mereka sudah bertemu di taman.
“Payah? Itu kan gelarmu?” Ralat Rahma sambil memarkirkan sepedanya di samping kursi tempat Doni duduk menunggunya. Doni hanya tertawa kecil.
“Oh, iya. Kamu.. Hmm.. Uhhh” Ucapan Rahma terputus, dia sibuk dengan matanya yang tiba-tiba kelilipan.
“Jangan dikucek, nanti matamu malah merah. Sini!” Sergah Doni.
Doni meraih tangan Rahma yang masih sibuk mengucek matanya. Kemudian kedua tangannya berpindah ke kepala Rahma dan mendekatkan ke depan wajahnya. Dekat sekali. Kemudian, Doni meniup mata Rahma pelan, beberapa kali hingga Rahma merasa matanya sudah normal.
“Bagaimana?” Tanya Doni akhirnya.
“Su-sudah enakan, terimakasih” Jawabnya sedikit terbata.
Rahma jadi salah tingkah. Dia mengucek matanya kembali yang sudah tidak kenapa-napa untuk menutupi kecanggungannya. Baru kali ini dirinya merasa canggung pada Doni yang merupakan sahabatnya sendiri, bahkan sudah sejak kecil.
“Jangan dikucek lagi, Bawel nakal!” Sergah Doni kembali. Kali ini, dengan mencubit kedua pipi Rahma, gemas.
“Sakit, Cerewet payah!” Kesal Rahma.
“Eh, Tadi mau bilang apa? Tanya Doni kemudian.
“Oh, iya. Hampir lupa” Ucap Rahma. “Aku cuma mau nanya, kamu mau lanjutin sekolah kemana?” Lanjutnya mulai serius.
Doni seketika terdiam, lagi-lagi sesuatu sedang dipikirkan olehnya. Pertanyaan Rahma membuat perasaannya kacau. Entah apa, tapi terasa berat bagi Doni untuk menjawab pertanyaan ini.
“A-aku..” Suara Doni keluar, tapi terbata.
“Kenapa?” Tanya Rahma merasa aneh.
“Aku.. Tidak bi-bisa.. Lagi” Jawabnya pelan masih terbata. Doni menunduk.
“Tidak bisa apa?” Rahma sama sekali tidak mengerti. “Cerewet Payah, ada apa? Kok kamu jadi aneh gitu?” Desak Rahma, sementara Doni masih membisu namun berusaha menyusun kata-katanya yang berserakan.
“Kita tidak.. Tidak bisa lagi.. Bersama. Maafkan aku, Cerewet Payah-mu ini” Jawab Doni akhirnya, lirih.
“Apa maksudmu? Aku.. Aku masih belum mengerti” Rahma bingung.
“Maafkan aku, Bawel Nakal. Aku.. Aku telah mengambil keputusan menerima beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke Amerika. Dan dua hari lagi, keberangkatanku” Jawabnya berat, masih dengan nada lirih yang dalam. Matanya mulai berkaca-kaca, tatapnya kosong entah kemana.

Hening, tidak bergeming. Mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Doni merasa bersalah dan sangat berat meninggalkan sahabatnya, sulit untuk mereka nantinya. Bahkan, tidak dalam cakupan yang mudah untuk selalu bersama lagi.
Sementara, Rahma, tidak tahu kenapa, perasaannya seperti dirampas. Dia tidak menyangka kegembiraannya setelah lulus SMA dan akan menjadi seorang mahasiswa, akan berubah menjadi sesuatu yang amat sulit dia terima. Ternyata, inilah kenyataan pahit dibalik diamnya Doni yang mengganjal sedari siang tadi, sebuah perpisahan.

Sejak kejadian itu, mereka tidak pernah bertemu lagi. Rahma memilih untuk mengasingkan diri dari Doni yang akan meninggalkannya. Dia selalu berusaha untuk tidak memikirkan hal yang akan membuatnya kehilangan itu. Bahkan, mungkin, dia berusaha untuk lupa dan meyakinkan hal itu tidak pernah terjadi dan tidak akan pernah terjadi padanya.
Kenyataannya, itu semua bertolak belakang dengan apa yang akan tetap harus Rahma tempuhi. Sungguh dirinya tidak bisa. Tidak sanggup.

Doni sendiri tidak merasa aneh dengan reaksi Rahma yang tentu saja sedikit menyiksa ini. Tidak terlalu banyak bertindak seakan tidak peduli. Tapi, bukan itulah maksudnya. Hanya saja, Doni mengerti sahabatnya itu, sangat paham. Pikirnya, dia tidak ingin menambah tekanan rasa kecewa itu pada Rahma.

Hingga akhirnya tibalah saat dimana Doni, akan meninggalkan kepingan-kepingan cerita bersama Rahma yang kini sudah jatuh berserakan diterpa hembusan kehilangan. Dari awal kejujurannya yang ternyata tindakan salah itu, hingga sekarang, Doni tengah mendapati dirinya yang hanya sendirian di antara gemuruh pinggiran jauh bibir landasan pesawat yang akan membawanya meninggalkan kepingan cerita bersama Rahma itu.

Beberapa orang mulai sibuk berlalu melintasinya yang masih berdiri tegak merendam diri dalam kenyataan pahit ini. Sebelum berangkat ke Bandara, Doni tidak menampakkan dirinya pada Rahma yang sudah terlanjur kecewa padanya. Masih pada alasan yang sama, dia tidak ingin menambah tekanan rasa kecewa itu. Dia ingin rasa kecewa itu tidak akan lama melekat pada jiwa Rahma, dia ingin rasa kecewa itu mendarat hilang bersamaan dengan mendaratnya pesawat yang akan membawanya menjauh dari kebersamaan yang mungkin tidak akan terjadi lagi.

Beberapa orang masih berlalu melintasinya. Namun, Doni masih tidak bisa menggerakan kakinya untuk melangkah meninggalkan bercak kepedihan ini. Rasanya, tidak ingin dirinya beranjak, membiarkan semua berlalu, agar dirinya dapat memungut kepingan cerita bersama Rahma yang sudah jatuh berserakan itu.
Masih dalam kesendirian diri yang didapatinya hingga saat ini, Doni terlarut. Pandangannya kosong lurus menatap ke depan. Pikirannya entah kemana. Perasaannya remuk, hancur.
“Wet..”
Panggilan lirih membuyarkan pikiran Doni yang sempat melayang. Suara itu, suara yang tidak asing lagi baginya, suara yang selama ini mengalun bersama hidupnya, suara orang yang sudah menjadi belahan jiwanya. Pemilik suara itu, tentu saja sungguh dikenalnya.
“Bawel? Benarkah itu kamu?” Sontak, Doni segera menuju sumber suara. Kakinya terhenti dengan segera pula dalam jarak yang terjaga di hadapan seseorang yang terlihat tengah berat memikul perih hati.
“Maafkan.. Akuuu..” Suara itu terdengar pasrah. Rahma menunduk lemah, tidak kuat menatap seseorang yang akan jauh meninggalkannya.
Ucapan itu seakan menggores dinding pertahanan Doni. Didekapnya segera dalam pelukan, orang yang sedari tadi tidak disangkanya akan hadir di tengah kegelisahannya yang sedang seorang diri mengahadapi kenyataan berat ini. Rahma terisak-isak dalam dekapannya. Tidak kuat lagi dirinya menyembunyikan air mata yang sudah membendung.
“Aku memang egois, tidak seharusnya aku begini” Sesal Rahma, mulai melepas dekapannya dari pelukan hangat kasih sayang seorang sahabat.
“Maafkan aku, Bawel Nakal. Aku memang seorang sahabat yang jahat, aku..”
“Sudahlah” Potong Rahma. “Akulah yang nyata jahatnya, menghalangi sahabatnya sendiri untuk memilih jalan hidup. Memang gila, egois” Lanjutnya.
“Bawel..” Desis Doni lemah.
“Sudah! Jangan cemaskan aku. Aku tidak akan menjadi penghalangmu lagi. Kejarlah mimpimu disana. Aku akan baik disini” Rahma mulai mengembangkan senyumnya.
“Inilah Bawel Nakal-ku!” Balas Doni juga tersenyum. “Kamu memang terbaik bagiku” Lanjutnya sambil menyeka air mata yang masih tersisa di kedua pipi Rahma.
“Pergilah! Hingga aku tidak bisa bernafas sekalipun, aku akan selalu setia menunggumu untuk membawa mimpimu itu” Tutur Rahma meyakinkan. Doni merekahkan senyum lega.

Pesawat akan segera berangkat. Dengan setengah berlari, Doni meninggalkan Rahma yang masih tersenyum padanya. “Aku pegang janjimu, Bawel Nakal” Teriaknya sebelum benar-benar menghilang dari pandangan Rahma. Tentu, Cerewet Payah! Berpisah bukan berarti berakhir.. Kita akan bersama lagi suatu saat nanti, entah dimana. Hati Rahma berucap.

Cerpen Karangan: Melinda Rahmasari
Facebook: Melinda Rahmasari
Nama: Melinda Rahmasari
TTL: Kuala Pembuang, Kalimantan Tengah. 06 Desember 1997
Sekolah: SMAN 1 Kuala Pembuang, kelas XI IPA 1

Cerpen Remaja Khayalanku

Cerpen Remaja Kali ini Berjudul Khayalanku. Cerpen ini mengisahkan tentang hanya sebuah khayalan belaka untuk dapat mendapatkan mu.

Cerpen Remaja Cinta

Siang itu, sinar matahari terlalu sengit untuk dilihat secara langsung hingga menembus kaca mobil. Aku (Sesil), Kirin, Didi, dan Julian yang sedang menyetir mobil, sedang menuju Dunia Fantasi yang berada di Jakarta Utara itu. Setibanya disana, Julian langsung memarkirkan mobilnya ke lapangan luas yang dipenuhi mobil-mobil pengunjung dengan beberapa pohon berdiri kukuh. Setelah dipastikan mobil kami terparkir dengan benar, kami turun dari mobil bersamaan. Kacamata hitam yang menggantung di bajuku sudah siap untuk melindungi mataku dari terik matahari yang sangat kejam. Aku ikat rambutku ke belakang, dan ku gulung rapih dengan kunciran pita berwarna hitam yang sepadan dengan celana jeans panjang yang mengenai atas mata kakiku. Didi dan Julian mempersilahkan Aku dengan Kirin untuk berjalan duluan. Aku melangkah dengan badan tegap menatap ke depan. Rambut Kirin yang panjang dibiarkan terurai hingga berterbangan tertiup angin, sepertinya Julian sedikit terganggu dengan rambut Kirin yang mengenai matanya, hingga Julian mundur beberapa langkah dari nya.

Cerpen Remaja

Kirin terlihat sangat cantik dengan style nya yang sangat santai. Baju tipis berwarna biru tua itu membaluti tangtop hitamnya dengan celana pendek berbahan jeans nya yang berjarak satu jengkal dari atas lututnya. Kacamata bulat berwarna hitam dipakainya untuk melindungi matanya dari terik matahari yang sangat menyilaukan pandangan. Didi, si pria Bali yang sangat santai dengan kaos abu-abunya dengan celana pendek di atas dengkul dan hiasan sepatu cokelat muda dengan talinya yang berwarna cokelat tua. Julian, si pria berkumis tipis yang wajahnya sedikit ke arab-an bergaya santai seperti Didi, tapi kali ini, Julian menggunakan topi yang dipakainya ke belakang. Dan aku, masih santai dengan rambut yang digulung ke belakang, dengan kacamata hitam dan kaus ungu serta sepatu fantovel berwarna hitam.

Cerpen Remaja Cinta Romantis

“Kita mau coba yang mana dulu nih?” tanyaku pada yang lainnya. “Duh sil, bianglala dulu aja yuuk.. Yang bikin kita terbang nanti aja. Kalo perlu belakangan aja pas kita mau pulang..” sambung Kirin dengan nada sedikit cemas. “Ribet kan ngajak dia. Kalo kamu ngomong gitu, mending kamu duduk manis deh di bawah pohon itu. Jangan berisik..” ucapan julian membuat Kirin tertunduk malu. “Apaan si juul” jawabnya. “Tapi emang bener juga si kata Julian. hahaha…” Didi langsung menyambung kata-kata Julian dengan wajah tanpa dosa. Kirin yang sedikit jengkel, langsung mencubit perut Didi yang terlihat tidak berisi. “Aww.. sakit kali rin” “Bodo sih yee..” sambil menjulurkan lidahnya pada Didi seperti anak kecil.

Terpaksa, kami menuruti kata-kata Kirin dengan naik bianglala tanpa ekspresi alias bosan. Turun dari bianglala, kami bertiga langsung menyerbu Kora-kora yang berada di sampingnya. Antrian Kora-kora memang panjang sehingga membuat kami harus sabar menunggu. Disaat menunggu, Kirin berusaha membatalkan niat kami bertiga. Tapi tetap saja Kirin harus ikut menaikinya. Di atas sana, awalnya Kirin terlihat santai sampai akhirnya ia berteriak dengan sangat kencang hingga tidak bersuara dan memeluk Didi dengan sangat erat. “Di.. Di.. Didiii.. Didi tolong Didiii…” matanya terpejam dan semakin erat memeluk Didi.

Selesai dari wahana itu, Kirin langsung lemas dan bibirnya pucat. Kami yang khawatir akan keadaannya, langsung beristirahat untuk memulihkan keadaan Kirin seperti semula. Aku dan Julian memesan makanan untuk kami berempat yang kebetulan waktu untuk makan siang telah tiba. Terlihat, Kirin masih sangat lemas dan melamun. Didi yang duduk di depannya, berjalan menghampirinya dan duduk di sebelah Kirin. Mengusap kepala Kirin dengan tujuan untuk menenagkannya. Didi sangat lembut jika sudah bersama Kirin.

Makanan yang telah siap, aku antarkan untuk Kirin. Kirin memakan makanannya dengan lahap, dan meminum es teh manis sampai bibir merah yang tadinya berwarna putih itu kembali. Sekitar 45 menit kami berada disana dan berlanjut ke wahana lainnya.

Tapi perjalanan kami tertunda oleh Didi dan Julian yang akan melaksanakan solat jumat. Sekitar 30 menit kami menunggu, mereka datang kembali dan mengajak Kirin ke arena BomBomKar kesukaannya. Dengan wajah ceria, Kirin langsung menyetujuinya dan berjalan di depan kami dengan penuh semangat. Tentu kami harus mengantri sampai akhirnya kami dipersilahkan untuk memilih mobil yang akan kami kendarai. Di arena itu, kami selalu bertabrakkan dengan keras layaknya mengendarai mobil sungguhan. Didi sangat bersyukur saat semangat Kirin kembali seperti semula.

Pergi dari arena BomBomKar, kami menuju halilintar yang putarannya lebih sederhana. Dalam wahana itu, aku berada di belakang Kirin, dan Didi berada di belakangku, sedangkan Julian berada di depan Kirin. Dalam wahana itu, aku tidak bisa memendam teriakkanku sampai akhirnya teriakkanku dan Kirin meledak-ledak, sedangkan Didi dan Julian tidak bisa menahan tawanya lebih lama.

Turun dari arena itu, kami langsung pergi mencoba wahana lainnya seperti rumah ajaib, rumah jahil, dan Happy Feet. Tapi, setelah kami mengantri cukup lama, terbesit pada benakku untuk mundur dari antrian “Capek kali ngantri gini doang, 50 orang. Pertunjukkannya 10 menit, ngantrinya? Ayo deh mending kita nonton show di deket hysteria tadi aja. Mulainya jam tiga, sebentar lagi..” ucapku mengalihkan pembicaraan. “Ya udah deh yuuk nonton show itu aja, daripada ini ngantri nya masih panjang tuh liat aja deh..” sambung Kirin. Akhirnya, kami melompat dari batas antrian dan menuju ke show dekat hysteria dengan berlarian. Sesampainya disana, show sudah dimulai dan kami mencari tempat duduk yang nyaman sampai show selesai.

Pandanganku teralihkan dari show pada pria tinggi berkulit sawo matang itu. Yang duduk di barisan nomor tiga dari bawah. Aku yang berada jauh di atasnya hanya bisa memandanginya dari jauh. Selesai menonton show, kami bergegas menuju wahana arum jeram. Tapi, saat di tengah-tengah perjalanan, aku mendadak ingin ke toilet. “Didi, Julian, aku mau ke kamar mandi nih… Tolong dong.. yaa” ucapku dengan wajah panik. “Ya udah di deket arum jeram juga ada toilet kok sil” sambung Julian memberi penjelasan. “Enggak ah Jul, aku mau ke toilet deket hysteria itu aja. Tolong dong ayook” gumamku memohon. “Ayok sil deket arum jeram pasti ada toilet kok..” sambung Didi meyakinkanku. “Ya udah ya udah ayok balik ke toilet tadi.” sambung Julian yang memutuskan. Karena sudah tidak bisa tertahan lagi, aku berlari menuju toilet. Dalam lariku, aku bertemu lagi dengan pria tinggi berkulit sawo matang yang menarik perhatianku saat show berlangsung. Tampaknya dia melihatku, tapi aku fokus untuk menuju toilet dengan cepat.

“Lama banget sih tadi ke toiletnya..” ucap Didi. “Maaf deh Di, tadi kan antri. Namanya juga cewek. ya kaan..” jawabku sambil mengedipkan mata pada Didi. Saat mencoba wahana arum jeram, mendadak dalam keadaan yang bergoyang-goyang, Kirin tidak bisa memakai sabuk pengamannya. “Didiii.. Didi ini gimana sabuknya kok gak bisa sii?” ucap Kirin panik. Namun saat Didi ingin membantunya, tempat duduk yang sedang kita naiki terus bergoyang, dan itu terjadi secara terus menerus. “Ah gimana si rin, masa pake sabuk aja gak bsia” sambung Didi. “Ih tapi susah Di.. bantuin dong.” nada panik Kirin mengacaukan suasana. Semuanya panik saat Kirin tidak memakai sabuknya. Kepanikkan terus melanda kami berempat yang sudah basah kuyup lantaran air mengguyur. Setelah menaiki arum jeram, kami langsung bergegas menuju ruang ganti.

“Makan bakso aja yuuk..” ucap Julian memberi ide. “Boleh, ayok ayok..” sambung yang lainnya. “Naik hysteria dulu yuk, aku penasaran dari tadi cuma bisa ngeliat orang-orang naik wahana itu.” sambungku sedikit memohon. “Udahlah, ayok makan bakso terus kita pulang. Lagipula ini juga udah sore. Ntar mama kamu nyariin sil,” lalu datang menghampiriku dan merangkul pundakku. Aku menurutinya, dan tanpa ku sangka aku bertemu lagi dengan pria tinggi berkulit sawo matang itu. Sungguh pertemuan yang tidak bisa ku duga. Saat ku perhatikan wajahnya dari kejauhan, dia mengingatkanku pada masa lalu. Membayangkan wajahnya sudah mampu menghilangkan rasa lelah yang aku rasakan sekarang. Khayalanku tentangnya sukses membuatku merasa bahagia. Namun saat makanan ku baru saja datang, rombongan pria itu berlalu dari hadapanku. Setelah selesai menikmati bakso, kami langsung pergi meninggalkan Dunia Fantasi untuk kembali ke rumah.

Cerpen Karangan: Kinaryochi W
Blog: kinaryochiwjy.blogspot.com
Instagram: Kinarych
Twitter: Kinarryochi
ask.fm/kinarryochi/
soundcloud.com/kinaryochi-wijaya/

Cerpen Remaja Cuma Dia

Cerpen Remaja kali ini berjudul Cuma Dia. Cerita Remaja yang satu ini megisahkan hanya di yang mampu memberi ku semangat cinta.

Cerpen Remaja Cinta

“SELURUH ANGGOTA PADUAN SUARA DIHARAP BERKUMPUL DI LAPANGAN SEKARANG” begitu kata suara speaker yang terdengar nyaring di setiap pojok tiang penampang gedung sekolahan yang tak terlalu besar ini. Dengan malas aku bangkit dari tempatku berleyeh-leyeh sambil menghabiskan sisa waktu istirahat yang tinggal beberapa menit lagi.
“Faraaa! Ayo cepetaaaan! Yang lain udah pada ngumpul tuh!” Teriak seorang laki-laki bertubuh tambun yang terlihat sibuk sana sini sembari mengatur microphone. “Iya jiii, sabar napaaa” aku menjawab dengan nada agak senewen.

Cerpen Remaja

Begitu tiba di hadapannya, Aji langsung menarik tanganku dan menyeretku menuju barisan murid di pinggiran lapangan yang membentuk formasi 4 saf dan mendorongku baris di saf terdepan yang tiap saf nya terisi 10 orang. Tak lama, alunan suara terdengar dari keyboard yang dimainkan oleh seorang guru. kemudian diikuti suara vokal murid-murid paduan suara yang mengalun beriringan dengan nada keyboard. “Terpuuujilah wahaaaiii engkau ibu bapak guruuuu” aku hanya mangap-mangap membuka mulut dan enggan mengeluarkan suara, membiarkan mulutku membuntuti artikulasi lirik lagu hymne guru yang dinyanyikan teman-temanku. Benar-benar terasa malas rasanya berdiri saat ini. Apa lagi di kelas sedang ada ulangan matematika dan aku dengan terpaksa harus ikut berlatih sebagai paduan suara yang bertugas mengisi acara perpisahan kelas 9. Yang perpisahan angkatan siapa, yang harus repot sampai satu sekolah. Pikirku dengan geram.

Cerpen Remaja Cinta Romantis

Selesai berlatih satu lagu hymne guru, mc acara memanggil beberapa murid kelas 9 untuk maju ke tengah lapangan. Dengan embel-embel ‘siswa terbaik’, mereka dengan bangga berjalan beriringan mengangkat dagu mereka agar terlihat hebat namun terkesan menyombongkan diri. Ada satu murid yang berbaris paling belakang, yang mana lainnya mengangkat dagu namun ia hanya menunduk, sambil sesekali menendang kerikil yang ia lewati. Langkahnya biasa, perangainya pun biasa. Seorang laki laki bertubuh jangkung, berkulit sawo matang, dengan rambut cepak sedikit berantakan, mata sipit, hidung mancung, sama seperti manusia normal lain dan tak terlalu menonjol di antara murid yang ada, namun entah mengapa keberadaannya memunculkan sensasi tak biasa padaku. Aku menatapnya lekat, seakan enggan mengalihkan pandangan, sampai akhirnya ia sadar telah diperhatikan dan menoleh ke arahku, membalas tatapanku. Sekejap aku merasa tubuhku kaku. Entah apa yang terjadi tapi rasa kaku itu menjalari tubuh hingga ke pipi, membuatnya berubah menjadi merah. Oh tidak, aku salah tingkah.

Cerpen Remaja Romantis

Semenjak kejadian itu, entah mengapa aku sering menangkap basah diriku sendiri sedang memikirkannya. Walaupun ia sudah lulus dan kami tak pernah lagi bertemu setelah itu. kecuali saat ia datang untuk reuni. Aku sangat ingin bisa bertemu dengannya lagi. Dan aku berharap bisa masuk sekolah yang sama dengannya saat lulus nanti. Perbedaan angkatan di antara kami membuatku sangat takut, takut mengakui kalau aku diam-diam suka padanya. Meskipun kami hanya berbeda 1 tingkat, tetap saja, dia seniorku dan aku juniornya.

Selang waktu berjalan, akhirnya aku lulus. Dengan nilai yang memuaskan dan mencukupi untuk masuk sekolah yang sama dengannya. Lama tak melihatnya ternyata tidak juga membuatku bisa melupakannya. Melupakan tatapan matanya yang selalu membuatku salah tingkah tiap kali mengingatnya. Aku memberanikan diriku untuk bisa lebih dekat dengannya. Dengan coba ‘mengkode’ lewat jejaring sosial, sampai dengan tidak malunya meminta nomor handphone dia pada temannya.

Jatuh cinta memang membuat orang jadi hilang urat malu. Tapi lama kelamaan, semakin aku memperlihatkan perasaanku padanya, dia semakin tak tersentuh. Pribadinya yang tertutup, semakin menampakkan respon yang seolah akan terus tertutup. Aku tau selama ini aku hanya mencoba mendapatkan perhatiannya, tanpa berani mengatakan langsung padanya. Aku sadar diri, sangat amat sadar diri. Aku hanya junior, seorang perempuan. Tak selayaknya menyatakan semuanya di awal. Kemudian aku menyerah.

Aku mencoba membuka hatiku untuk yang lain. Aku mencoba menjalin hubungan dengan orang yang menyatakan perasaan padaku. Namun hubungan itu tak berlangsung lama. Aku kembali memikirkan tentang dia. Berkali-kali aku mencoba untuk membuka hati, tetap saja selalu berakhir dengan cepat. Rupanya hati ini telah memilih dan tak ingin dipaksa berlabuh ke tempat lain. Sampai pada akhirnya, seseorang datang dan membuatku nyaman. membuatku bisa teralihkan dari pikiran tentang seniorku itu. Namun ternyata, itu pun tak berlangsung lama. orang itu meninggalkanku dan kembali pada cinta lamanya. Kemudian aku kembali terpuruk dalam lamunan dan hayalan tentang dia yang semu. Sampai saat ini, detik ini, aku masih memendam rasa pada seniorku bertahun-tahun. Mencoba menyerah tapi sama saja. Mencoba membuka Hati untuk yang lain tapi tak bisa. Hanya dia. Cuma dia. Yang membuatku menunggu, berharap, menyukai, sampai sejauh ini.

Cerpen Karangan: Aurina Anindya Nawang Safitri
Facebook: Aurina Safitri

Cerpen Remaja Hanya Sebuah Harapan

Cerpen Remaja kali ini berjudul Hanya Sebuah Harapan. Cerpen remaja ini berkisah dengan sebuah harapan yang sangat dalam. Semoga dengan Cerpen remaja ini dapat menghibur.

Cerpen Remaja Cinta

Sekolah, 9 april 2013
“karisma, kira kira besok mau ngado apa ya buat si vian?” tanya ku
“Mmm.. memang besok ada apaan li? vian ultah?” karisma tanya balik
“iya besok tanggal 10 april 2013 dia ulang tahun yang ke-13 dan sekarang aku lagi bingung buat besok aku ngadoin apa buat dia! bantuin donk” pinta ku
“cie banget sih sampe segitu apalnya. haha, ya kalau menurut aku sih kamu beliin jaket aja!” kata karisma

Cerpen Remaja
“iya ya kenapa aku gak kepikiran ya! berarti kalau dia lagi pake jaket itu dia lagi meluk aku dong, hoo so sweet” gurau ku
“haha, dodol” ledek karisma
“ya udah nanti sore kamu anterin aku beli jaket ya” pinta ku dengan penuh senyuman
“iya nona”

Cerpen Remaja Cinta Romantis

Sore ini aku sama karisma berniat memberikan jaket untuk kado vian nanti, memang sih aku belinya di toko yang murahan tapi aku harap sih nanti vian gak ngelihat dari harganya.

Kado pun sudah dibeli dan terbungkus kertas kado yang indah… malamnya, tepat pada jam 00.00 WIB – 10 april 2013 aku mengucap kan “HAPPY BIRTHDAY” ke vian via sms, tapi tak dibalas olehnya, ya mungkin ia sudah tidur kali ya! tak apa lah.

Cerpen Remaja Romantis

Di kelas, 10 april 2013
“eh eh kar? si itu udah datang belum?” tanya ku dengan semangat
“kayaknya sih belum li” jawab karisma yang membuat aku lesu.
“oh ya udah deh” jawab ku
“li li lia! tuh lihat tuh siapa yang datang, panjang umurnya tuh anak, baru diomongin udah ada aja tuh” kata karisma
Tanpa menjawab lagi perkataannya si karisma aku langsung duduk dan mengambil tas ku yang di meja, dan mengambil kadonya. Tetapi belum sempet membuka tas, aku melihat vian mendekat ke bangku ku, lama lama tambah dekat dan sekarang vian ada di samping ku.. ku kira ia ingin berterima kasih kepada ku tapi ternyata.
“karisma! buku ku yang kemaren kamu pinjam udah belum? aku ingin melanjutkan pr nya sekarang!” pinta vian, ternyata vian hanya ingin mengambil bukunya yang dipinjam karisma kemaren dan aku sama karisma 1 meja, mankannya ku kira ia ingin berterima kasih kepada ku, oh sungguh memalukan.
“oh buku yah! ini bukunya makasih ya yan” kata karisma
“iya iya sama sama” jawab vian
“mm. vian sekarang lu lagi ulang tahun yaa! HBD ya yan.” kata karisma
“iya makasihnya, tapi kok lu tau kalau hari ini gua ultah?” tanya vian
“tau donk! oh iya lia katanya kamu mau ngomong sama si vian” cetuk karisma. aku kaget karena dari tadi aku hanya melamun.
“Mmm, HAPPY BIRTHDAY VIAN semoga panjang umurnya, diberikan kesehatan, dan ini kado dari gua emang kado ini harganya murah, tapi gua harap lu jangan nilai dari harganya ya” kataku
“ohh iya iya lia makasih banget ya, Mmm tadi malam kamu juga ngucapin ya? makasih ya lia” kata vian.
“OMG senyumannya bikin gua kelepek kelepek, oh hari yang indah” ucap ku dalam hati.
Belum sempat ku bilang iya Bell masuk berbunyi, akhirnya ia langsung duduk di tempat duduknya… semenjak itu aku dan vian tambah akrab entah karena apa, dan rasa cintaku bertambah kali lipat kepadannya, apa lagi dia selalu Care terhadapku..Tapi suatu hari aku mengungkapkan semua perasaan ku terhadapnya (ingat MENGUNGKAPKAN bukan NEMBAK) tetapi apa jawabaannya ternyata vian sudah suka dengan perempuan lain yang bernama winda, sugguh hati ku kacur berantakan perasaan ku tak karuan, dan mulai saat itu aku memutuskan untuk melupakannya.. ku kira perasaan aku ke dia sudah benar benar hilang karena aku sudah loss contact dengannya, tapi ternyata perasaan itu tak hilang dan tak akan pernah hilang.

Di bulan november aku dan vian jadi lebih sering ketemu ya karena aku dan vian masih 1 sekolah dan dia juga osis, tapi tak apa lah aku lebih baik menjadi matahari yang selalu menerangi ia walau ia tak pernah memperhatikan ku, melihat mukanya saja aku sudah bahagia.. di bulan november itu juga vian dan winda resmi PACARAN, lagi lagi dan lagi vian membuat hatiku hancur lebur tak karuan, ia sukses kembali membuat ku menangis, tapi tak apa lah mungkin takdir tidak berpikah kepada ku…

Di akhir bulan november ada rapat osis di luar sekolah, kali ini ia sukses lagi membuat ku nangis plus fashback, dengan ia datang ke rapat osis memakai jaket pemberian ku waktu dia ulang tahun kemarin, oh tuhan apakah ia senang membuat ku terus menangis karena nya.
Huuuft aku sudah lelah dengannya vian aku memutuskan kembali membuang perasaan cinta untuk nya, tapi jika aku bisa berharap aku ingin memilikinnya dan saling mencintai satu sama lain, hanya itu harapan ku.

Cerpen Karangan: Syeftia Sari
Facebook: Syeftya Sari Tya
Aku syeftia sari biasa di panggil tya, kalo mau ngeritik/masukan langsung aja ke fb ku SYEFTYA SARI TYA. makasih 🙂